50 First Dates dan Pengorbanan Keluarga

50 First Dates dan Pengorbanan Keluarga

B00190L018_50FirstDates_UXSY1._V391275701_RI_SX940_

Gue kecelakaan akhir Juli kemarin, dan itu menggagalkan semua rencana liburan gue.

Milky Way Photography, melakukan fotografi bintang di langit gelap di gunung  yang sudah gue persiapkan semuanya; tripod, kamera mirrorless, shutter..

Double Summit, melakukan perjalanan ke dua gunung sekaligus; yaitu Merbabu dan Merapi. Walaupun rencananya gue tidak akan ke puncak karena ingin semalaman memfoto bintang.

Sebuah project di Bandung bernama Midnight in Paris van Java atau Si Tu Voi Ma Belle dimana gue akan merekam sudut-sudut kota dengan latar lagu Si Tu Voi Ma Mere-nya Sidney Buchet, persembahan untuk seseorang yang sangat spesial dan Woody Allen yang telah membuat yang sejenis dengan latar Paris di Midnight in Parisnya.

Gue sampai sering bersenandung salah satu lagu Sheila On 7, Sekali Lagi.

Jika hidup harus berputar

Biarlah berputar

Akan ada harapan

Sekali lagi

Seperti dulu

Begitulah.

Kemudian, hampir semua keluarga gue datang; Umi, Abi, tante, pakde, sepupu, bahkan teman-teman gue baik dari dunia nyata maupun komunitas-komunitas di dunia maya datang dari berbagai tempat. Bahkan adik Vienny JKT48 yang ternyata bapaknya berteman dengan bapak gue pun datang.

Abi gue bahkan sampai dinas mencari uang dengan dinas ke Republik Ceko dan menghabiskan berjuta-juta untuk pengobatan gue, Alhamdulillah gue gak jadi operasi karena saat di ruang operasi gue bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar; nama gue, tempat tanggal lahir, nama orangtua. A lot of thanks for my father.

Begitulah.

Melihat pengorbanan orang tua gue, gue teringat salah satu film terbaik Adam Sandler; 50 First Dates.

Well, nevertheless he made a lot of horrible movies.

Punch Drunk Love? Ah, menurut gue, film itu kalah dengan film ini. Prove me if I’m wrong.

Film ini bercerita tentang Lucy Whitemore, seseorang yang menderita ketidakkemampuan otaknya untuk melakukan long-term memory, dan ingatannya berhenti hanya hingga hari ulang tahun ayahnya dimana ia mengalami kecelakaan. Dan setelah tidur setiap harinya, ingatannya akan hari itu akan hilang dan kembali seperti sebelumnya.

Sehingga, tiap hari harus tetap seperti itu, dan itu yang dilakukan keluarganya; ayah dan adik laki-lakinya,

Tiap hari, mereka akan mengambil nanas di kebun, lalu memakan kue bersama dan ayahnya akan pura-pura kaget saat mendapatkan kejutan dari kedua anaknya. Koran tiap hari pun disembunyikan agar tidak menimbulkan kebingungan bagi Lucy.

Dia juga akan mengecat ulang rumah mereka tiap pagi sebelum Lucy  bangun, karena Lucy mempunyai hobi mengecat rumah dengan warna baru tiap ulang tahun ayahnya.

Mereka juga bekerjasama dengan penduduk pulau, salah satunya kafe tempat Lucy biasa makan agar juga menyembunyikan koran hari itu.

Rasa jenuh akan semua itu pun mereka sembunyikan, dan mereka lampiaskan dengan helaan napas panjang tiap Lucy tidur di malam hari.

Lalu datang Adam Sandler yang berperan sebagai Henry Roth.

Ia mengajak berkenalan dengan Lucy, lalu kaget saat esok harinya ia bertemu dengan Lucy kembali, ia justru diusir.

Itu lalu yang membuat Henry penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Lucy.

Lalu kemudian Henry menikah dengan Lucy, dan melakukan sebuah pengorbanan yang sebaiknya dilihat saja langsung di filmnya. Huahahahah.

Advertisements

Hijab dan Hidayah yang Dipertanyakan

Hijab dan Hidayah yang Dipertanyakan

Hijab

 

Aulia mendapatkan hidayah untuk berjilbab saat pergi ke Aceh, disana ia melihat gadis menjadi sangat dihormati, sehingga ia yang awalnya berpakaian sangat terbuka menjadi berhijab.

Apakah kalian sering membaca atau menonton hal seperti itu?

Gue kadang sangsi, karena dari banyak yang gue lihat, orang berhijab karena orang tua atau karena suami.

Apalagi sejak Marshanda yang sempat sering mengisi menjadi motivator soal bagaimana ia mendapatkan hidayah untuk berhijab kembali berpakaian sangat terbuka sejak bercerai dari Ben Kasyafani, menambah kesangsian gue.

Dan jika kamu orang pesantren, pasti tau jargon andalan mereka; Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa.

Padahal harusnya orang berhijab bukan hanya karena terbiasa, tapi karena pemahaman yang diberikan soal hijab itu sendiri.

Hal ini juga yang membuat banyak orang tidak berhijab dengan alasan; “belum mendapatkan hidayah”.

Gue pun gelisah.

Kemudian suatu hari ada perseteruan terjadi antara Hanum Rais dan Zaskia Mecca terkait dengan film Hijab–perkenalan pertama gue dengan film ini.

Gue sebenarnya awalnya gak begitu peduli, tapi kemudian teman gue menonton dan gue yang nimbrung bentar merasa film ini cukup kocak. Gue pikir awalnya Hanung hanya bisa membuat film-film kontroversial yang terlalu serius yang gak begitu gue suka, rupanya dia juga cukup bagus membuat komedi.

Gue pun mencoba film ini.

Film ini bercerita tentang empat sahabat yang mendirikan butik hijab karena merasa diri mereka terlalu bergantung terhadap suami.

Tiga dari mereka berhijab, tetapi awal mereka berhijab diawali tanpa kesan ‘hidayah’ sama sekali.

Sari berhijab karena suatu hari ia pergi berbelanja ke pasar dimana barang-barang ‘Arab’ dijual dengan harga murah, ia kemudian memakai hijab lengkap dengan cadarnya .

Tiba-tiba seorang berketerunan Arab yang menganut aliran Islam yang cukup keras melihatnya, dan ia pun langsung dilamar dan ia kemudian menikah.

Jadilah Sari menjadi seorang yang berhijab, karena ia santai saja menuruti kemauan suaminya untuk menghijabkannya lengkap dengan seluruh keluarganya.

Tata, ia berhijab karena rambutnya yang botak di tengah, juga karena seorang fotografer yang ia cintai menyukainya dengan hijab itu hingga akhirnya mereka menikah.

Bia, ia berhijab karena suatu hari datang ke acara yang ternyata pengajian dengan pakaian yang terlalu terbuka, merasa salah kostum, esok harinya ia datang dengan hijab, tapi orang-orang salah kaprah hingga ia dipanggil kemana-mana dengan gelar Gadis Hidayah, ia pun menikmatinya karena itu membantu penghasilannya dan tetap memakai hijab walaupun tidak menjadi Gadis Hidayah lagi.

Hanya Anin yang tidak berhijab.

Tapi di akhir film, Anin pun ikut berhijab, karena selama ini ia melihat bagaimana teman-temannya berhijab; ia jadi menyadari bahwa hijab memang tentang perjalanan, bukan tujuan. Sehingga yang penting bukan tentang cara memulainya, tapi tentang cara menjalaninya.

Gue jadi teringat kisah berkas proklamasi yang hilang sebelum proklamasi dimulai dan menyadari, bahwa merdeka itu seperti hijab; bukan tentang bagaimana dimulainya, tapi bagaimana menjalaninya. Dan hijab pun membuat seseorang benar-benar merdeka, karena seperti kata Anin pula di akhir film yang juga terdapat dalam ayat suci Al-Qur’an, auratnya hanya untuk orang-orang yang pantas melihatnya, terutama suaminya. Bukan hak orang-orang sembarangan.

Siapa pemeran Anin? Natasha Rizki, istri Desta yang kini benar-benar berhijab.

natasha rizki

 

Rafathar dan Cinta Sutradara Kepada Anak

Rafathar dan Cinta Sutradara Kepada Anak

C_csgoqVYAAAyta

Satu lagi film menjijikkan yang membuat gue miris terhadap sinematografi Indonesia yang sebenarnya mulai menampilkan sutradara-sutradara hebatnya.

Rafathar.

Satu hal yang gue tebak dari tujuan film ini adalah; Raffi Ahmad ingin menunjukkan cintanya yang besar kepada anaknya dengan membuat film dengan judul nama anaknya sendiri dan bahkan menjadikannya tokoh utama.

Gue jadi mikir, ini kalo gedenya anaknya dibully sama teman-temannya karena film gak jelas ini, gimana coba?

Tapi bodo amat.

Namanya juga orang kaya, bingung duitnya mau dipake buat apa, padahal pajak aja belum bayar. Huahahah.

Sekarang, gue pengen ngomongin soal bagaimana sutradara dan produser Indonesia yang gue kagumi menampilkan cinta mereka terhadap anaknya.

Kita mulai dari sutradara dan produser Filosofi Kopi, Cahaya dari Timur, dan Surat dari Praha; Angga Dwimas Sasongko dan Anggia Kharisma.

218b66a17ad0ff9bda31647c2a342fc6

005-surat-dari-praha

Surat dari Praha, film yang menceritakan tentang mahasiswa Soekarnoeis yang dibuang di jaman Orde Baru ke Praha dengan tidak dibolehkan pulang ke Indonesia, film itu sendiri salah satu film dengan scene-scene terbaik seperti lukisan menurut gue.

Bagaimana Angga Sasongko dan Anggia Kharisma menampilkan rasa cinta mereka terhadap anak mereka dalam film itu?

SImpel saja, dalam adegan telfon Larasati (Julie Estelle) terhadap temannya di Indonesia, diceritakan temannya sedang sibuk mengurus anaknya yang bernama Rigel–anak lelaki mereka.

Kedua, sutradara dan penulis naskah Cek Toko Sebelah dan Ngenest; Meira Anastasia dan Ernest Prakasa.

4d2e9df6142e5316bd81b3dab46be5fc

MV5BMmVjZGYwNGEtODkxMC00YzZmLTk2NmQtMjM5OWU5NDRlYzkwL2ltYWdlL2ltYWdlXkEyXkFqcGdeQXVyNzA4NDg1NjY@._V1_

Cek Toko Sebelah, film yang bercerita tentang dua toko kelontong yang saling bersaing dan konflik kakak adik Tionghoa-Indonesia.

Bagaimana Meira Anastasia danErnest menampilkan rasa cintanya terhadap anak mereka?

Simpel saja, dengan memberi Sky peran cameo sebagai anak pengusaha yang ingin merebut toko Koh Afuk.

Ketiga, sutradara kontroversial  yang sejujurnya ideologinya agak kurang cocok dengan saya, tapi berhasil menyutradarai film-film hebat bersama istrinya sebagai aktris atau produser seperti Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Rudi Habibie, dan Hijab; Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca.

(Sebagai informasi saja, terlepas dari isu liberal mereka, Zaskia Mecca menyebut bahwa ucapan Ahok di Pulau Seribu sebagai penistaan agama).

keluarga-hanung-bramantyo-dan-zaskia-adya-mecca_20170327_141328

Hijab

Film Hijab, sebuah film yang sempat dikritik Hanum Rais padahal lebih membekas bagi saya dan lebih mempunyai isi dibandingkan 99 Cahaya di Langit Eropa yang menyebut kemungkinan Napoleon yang menginvasi banyak bangsa sebagai seorang Muslim. Film ini bercerita tentang bagaimana hijab itu proses, bukan hasil ataupun tujuan, dan membuat Natasha Rizky berhijab setelah menjadi aktris di film itu.

Bahkan gue jadi ingin berhijab setelah menonton filmnya, hahaha.

Bagaimana Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca menampilkan rasa cinta mereka terhadap anak mereka di film ini?

Di film ini, seperti Ernest, Hanung menunjukkan rasa cintanya terhadap dua anak perempuannya dengan menampilkannya sebagai cameo, sebagai anak salah satu pemilik butik Meccanism.

Sepertinya Raffi Ahmad harus belajar banyak dari mereka dibandingkan membuat film tidak jelas yang hanya embuat kualitas sinem Indonesia semakin memalukan.

Apalagi kemarin Filosofi Kopi 2 hanya memperoleh sekitar 200 ribu penonton, kalah dengan Danur, film horor yang tidak seram (padahal bukunya bagus) yang mendapatkan 2 juta penonton.

Demokrasi di Sebuah Film Semi Korea

socratesmesum

Gue pernah menonton sebuah film semi Korea yang ternyata cukup membuat gue tertawa dibandingkan membuat gue mencapai tujuan gue sebenarnya–belajar sejarah, huekekekek.

Di film itu bercerita tentang seorang anak muda Korea Selatan yang mencari pengalaman dengan pasangan kencan yang paling romantis, dan yang menjadi lucu adalah perjalanannya mencari pasangan idamannya.

Ada juga konflik yang membuat gue cukup ngakak disaat anak muda tersebut kaget karena ternyata ayahnya adalah semacam germo besar di dunia maya.

Tapi bukan itu yang ingin gue bicarakan.

Ada salah satu adegan menarik dalam film itu.

Jadi pada suatu saat, keluarga anak muda yang merupakan anak tunggal itu berembuk untuk menentukan dimana si anak muda akan melanjutkan kuliah (atau SMA, gue agak lupa.)

Keluarga itu adalah keluarga yang demokratis; dalam artian mereka akan melakukan voting untuk setiap keputusan dalam keluarga tersebut—ide tersebut datang dari sang ibu.

Tapi sebelumnya, biar gue jelaskan  karakter-karakter anggota dalam keluarga itu.

Sang anak muda, merupakan anak yang cukup memberontak, dan ingin mempunyai keputusan sendiri, tapi kurang berani.

Sang ayah, merupakan seorang suami yang selalu manut saja terhadap sang istri, entah karena takut atau memang malas mengurus keluarganya.

Sedangkan sang istri, adalah semacam bos besar di dalam keluarga itu.

Voting pun dijalankan.

Gue kurang ingat hasilnya, tapi yang jelas usul sang ibu menang dengan dua voting karena ia mempunyai suami yang manut dan sang anak pun kalah dan harus menurut terhadap hasil keputusan yang demokratis tersebut.

Socrates, seoang filsuf Yunani, mebenci demokrasi, ia bilang, demokrasi membuat suara satu professor sama dengan satu orang bodoh.

Dan, tidak perlu buku tebal, cukup sebuah adegan kocak dalam sebuah film semi Korea untuk menjelaskan ke gue akan hal itu.

Tidak perlu seorang presiden yang begitu manut kepada sebuah ormas yang seenaknya saja membubarkan pengajian para ustad-ustad dan sekolah-sekolah hanya karena berbeda ideologi.

21 Agustus 2017, maaf,  kegalauanku tidak menghalangi produktifitasku J

 

 

Ritual Memanggil Tuyul 

Kalo lu pikir orang-orang Persatuan Pelajar Indonesia adalah kumpulan nerd dengan obrolannya yang serius, anda salah besar! Huahahahha.

Let me tell you why.

Jadi di PPPI Al-Ain, Uni Emirat Arab, ada sebuah ritual memanggil tuyul.

Tapi tentu aja, ini bukan ritual sembarangan.

Salah satu junior (yang paling idiot, tentunya), akan disuruh untuk wudhu, membuka baju, celana, dan celana dalam.

Lalu dia akan dibawa para senior ke salah satu kamar yang lampunyanya akan dimatikan.  

Kemudian, ia akan disuruh membuka sarungnya dan sebuah bb murahan akan merekam kejadian itu. 

Para senior akan mengatakan bahwa ttuyuilnya ngumpet di dalam situ, while in fact itu sebenarnya ngerekam titit HAHAHAHHAH.

Karena titit junior saat itu sangat berbulu dan jorok, senior gue pada bilang,

“BUKAN TUYUL INI, INI MAH JENGLOT!”

And you know what’s even funnier?

Dia percaya!

Huahahahahahhahah.

Malah nanya, “Hah mana kok saya gak liat!?”

Asli ngakak ngeliatnya.

Bodoh dipelihara

Regret

Regret

​Ada sebuah artikel yang pernah dia baca, bahwa orang-orang di Barat mulai jarang ke klub akibat aplikasi Tender.
Klub, yang dulunya jadi ajang pencarian jodoh, ditinggalkan karena adanya Tender yang lebih menghemat waktu dan biaya untuk mencari pasangan hidup atau sekedar one night stand.

Dia kemudian sadar, bahwa selama ini begitulah hubungannya  bermula; berawal dari sms, atau setelah internet datang berawal dari internet.

Jaman SMP dulu, di SMPnya  orang yang menyatakan cinta lewat sms itu bakal dikatain pengecut.

Dulu dia pikir itu berlebihan, tapi setelah ngeliat gimana internet ngubah pola hubungan, dia rasa hal itu ada benernya.

Karenanya, dia punya sebuah penyesalan.

Waktu itu dia sedang dalam perjalanan Purwokerto-Jogja dengan kereta, untuk menghadiri pernikahan temannya.

Kemudian dia bertemu seorang perempuan yang awalnya bertampang agak sinis saat melihat dia. 

Karena tampang sinis itu dan perempuan itu duduk tepat di depannya berdasarkan tiket, dia akhirnya memilih membaca buku Kinanthi yang ditulis oleh Tasaro GK untuk menghindari suasana yang aneh.

Perempuan itu tampangnya agak berubah, dan kemudian juga mengeluarkan buku Architecture of Love yang ditulis oleh Ika Natassa dan membacanya.

Singkat cerita, dia yang kaget menemukan perempuan pecinta buku–yang jarang ia temui, langsung mengajak perempuan itu untuk berbicara satu sama lain.

Dan sepertinya perempuan itu juga menginginkan itu.

Mereka berbicara tentang banyak hal–yang tentu saja berhubungan dengan buku; Dilan, Pidi Baiq, Habiburrahman El Shirazy, Critical Eleven..

Waktu berlalu cepat, kereta telah sampai.

Dia kemudian meminta kontak BBM perempuan itu, dan mereka melangkah keluar.

Diluar, perempuan yang melangkah duluan itu terlihat seperti menoleh berkali-kali seolah menyiratkan sesuatu.

Tapi dia yang bodoh seolah tidak sadar padahal melihatnya, kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan perempuan itu.

Itu penyesalan yang pertama.

Yang kedua, adalah hpnya beberapa saat kemudian rusak dan kontak BBM perempuan itu terhapus. 

Setahun kemudian, dia menyadari bahwa BBM bisa dibuka di hp lain asal dengan akun yang sama. 

Tapi telat, perempuan itu sudah tidak memakai BBM, BBM sepertinya memang sudah tidak zamannya lagi. Sudah ada Line, Whatsapp, dan aplikasi lainnya. Orang-orang pun juga sudah beralih ke Android.

Maka, surat menyurat denganmu adalah caranya untuk mencoba menghapus penyesalan itu, atau setidaknya menguranginya sedikit saja. 

​​





Angga Sasongko dan Idealisme

Angga Sasongko dan Idealisme

Tembok kantor Visinema Pictures. 

Gue baru aja nonton Filosofi Kopi 2, dan gue senang bagaimana di film ini kematian ibu Ben karena sengketa perusahaan kelapa sawit dan ayahnya yang petani kopi diceritakan lebih eksplisit. 

Bukan hanya itu saja, selain tiket bioskop Filosofi Kopi 2 bisa ditukarkan segelas kopi di kedai Filosofi Kopi yang terdapat di Jakarta dan Jogja, membeli satu tiket Filosofi Kopi 2 berarti memberi satu benih kopi untuk petani di lereng Merapi. 

Satu hal yang gue liat dari hal-hal itu: idealisme Angga Dwimas Sasongko sebagai seorang sinematografer. Terlepas dari bagaimana abstraknya apa yang disebut idealisme itu sendiri. 

Kadang kita kesal ngeliat kualitas sinema di Indonesia yang kok kayak gak tertolong banget, sampai kadang gue bertanya, “Apa iya kualitas para sinematografer Indonesia seburuk itu?”

Jawabannya? 

Ternyata, enggak juga.

Kita ambil contoh deh, sinetron yang selalu jadi bahan ejekan di fenspej-fenspej meme wibu yang suka ngebandingin sinetron sama anime. 

Gue pernah baca di Vice yang bikin wawancara dengan salah satu tim kreatif Anak Jalanan, bahwa “kita tuh enggak kekurangan penulis cerita bagus, sebenarnya”. 

Hanya saja tuntutan pemilik modal lah yang bikin kualitas cerita sinetron hancur. 

Penulis skenario sinetron yang diwawancarai Vice juga berkata, bahwa dia pernah membuat skenario yang justru ditolak mentah-mentah karena “too intellegent”.

Angga Dwimas Sasongko, menyadari hal ini, makanya dia mendirikan Production House sendiri yang bernama Visinema Pictures atau bisa dibilang Production House yang menghadirkan sinema dengan visi.

Lihat aja deh film-film Visinema Pictures sejauh ini;

Cahaya dari Timur yang mengangkat soal sentralisasi Jawa, Surat dari Praha yang mengangkat soal mahasiswa buangan jaman Orde Baru, Filosofi Kopi yang mengangkat soal petani kopi… 

(Untuk Bukaan 8, gue belum nonton jadi gaktau tuh film ngangkat soal apa hueheheh)

Dan meskipun menampilkan idealisme dalam sinematografinya, Angga tidak melupakan sisi komersil dalam film ini sehinnga film ini tidak hanya idealis, tapi juga bisa dinikmati banyak orang. 

Mungkin, seperti kutipan Tan Malaka yang dipajang di tembok kantor Visinema Pictures, Angga sadar bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”.

Dan meskipun sudah beristri dan mempunyai satu anak, Angga tidak mau kehilangan kemewahan itu.