Film Ruby Sparks dan Mencintai Mayat

Ada salah satu berita unik yang pernah gue baca, tentang seorang pengusaha Jepang yang meninggalkan istri dan anaknya demi boneka seks.

Awalnya boneka seks pengusaha Jepang ini hanya dipakai untuk pelampiasan karena pengusaha ini kesepian harus tinggal di Tokyo meninggalkan keluarganya di Nagano untuk menjalankan bisnis.

Tapi kemudian bukan hanya menjadi pelampiasan seks, boneka seks itu akhirnya menjadi kekasihnya yang membuat ia meninggalkan keluarganya.

“Dia tidak pernah membuat saya bosan, tidak seperti manusia yang selalu rasional. Saori lebih dari sekedar boneka, ia adalah pasangan yang sempurna”, katanya.

Boneka seksnya itu pun ia benar-benar perlakukan sebagai kekasih. Ia ajak menonton bersama, ia ajak berjalan-jalan, dia belikan pakaian untuknya..

Hal serupa bukan hanya terjadi baru-baru ini.

Dulu, ada yang namanya Necrophilia, yaitu kelainan seksual yang menjadikan mayat sebagai objeknya.

Dan dari 34 kasus, 68% alasannya adalah karena tidak adanya tindakan rasional berupa penolakan atau perlawanan dari mayat, dimana kadang pasangan sendiri akan menolak hubungan badan jika sedang ‘tidak mood’. 

Mayat akan menuruti tindakan seksual apapun yang dikehendaki. Dan dalam kasus boneka seks, itu lebih. Boneka seks akan ikut menonton film apapun yang kita tonton, akan ikut berjalan kemanapun kita bawa.

Ada beberapa jenis perfeksionisme, salah satunya adalah perfeksionisme terhadap orang lain dimana seseorang memberi ekspektasi yang lebih terhadap orang lain.

Yang kita bicarakan saat ini adalah perfeksionisme terhadap pasangan hidup, dimana banyak dari kita (gue gak sih, jomblo soalnya heuheu), menaruh ekspektasi tinggi terhadap pasangan kita, menginginkan agar si doi (pacar/istri) selalu sejalan dengan apa yang kita mau. 

Yang bersetubuh dengan mayat mungkin kecewa terhadap pasangannya yang menolak jika tidak ‘mood’ atau menolak untuk melakukan bermacam-macam gaya seksual. 

Yang bersetubuh dengan boneka seks hingga bahkan menjadikannya kekasih, mungkin mengalami kekecewaan yang sama, ditambah mungkin kecewa karena istrinya tidak menyukai acara TV favoritnya, atau istrinya ternyata tidak menyukai tempat untuk berlibur yang ia pilih; padahal awalnya istrinya mengatakan ‘terserah’. 

Seperti itu pula yang terjadi pada Calvin (Paul Dano) dalam film Ruby Sparks, ia tidak bisa menemukan wanita yang ia idamkan, sehingga ia bahagia bukan main ketika Ruby Sparks (Zoe Kazan), sosok wanita ideal fiktif ciptaannya yang ia tulis di mesin tiknya tiba-tiba muncul di dunia nyata dan menjadi kekasihnya.

Tapi ternyata, Ruby Sparks yang bahkan merupakan tokoh ciptaannya pun tidak bisa memenuhi ekspektasinya hingga akhirnya mereka berpisah. 

Mungkin itu pula yang akan terjadi terhadap orang-orang yang memilih mencintai boneka seks dan mayat, yang tidak mau menerima pasangan hidupnya apa adanya. Yang tidak menyadari bahwa dirinya pun tidak sempurna. 


Changes

 “That’s just the way it is, things will never be the same” – Tupac Shakur

Bumi berputar, dunia berubah. Dalam lagu Changes, Tupac berkata bagaimana Amerika tidak siap mempunyai presiden hitam, hanya kurang lebih sepuluh tahun kemudian Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Tapi gue sekarang gak pengen ngomong berat, dan lebih pengen berbicara tentang perubahan-perubahan kecil yang terjadi terhadap kita dan sekitar kita.

Setiap tahun, kita adalah individu yang berbeda, kata Steven Spielberg. Dan itu menurut gue benar sekali.

Gue gaktau apakah itu namanya proses pendewasaan. Tapi kadang kita berubah yaa berubah aja. Bukan karena menjadi lebih dewasa; kadang malah menjadi lebih konyol, kadang malah tidak begitu mempengaruhi kedewasaan ataupun ketidakdewasaan.

Gue bahkan kadang merasa diri gue yang dulu berbeda banget dengan diri gue yang sekarang, seolah-olah dua jiwa yang berbeda yang berganti  shift dalam mengisi raga gue.

Gue dulu fans Madridista yang fanatik abis yang bisa bangun tengah malam tanpa alarm cuman untuk nonton pertandingan Madrid.

Dan kalau dipikir ajaib juga, karena gue cuman butuh tau jam berapa pertandingan itu bakal main, ngomong ke diri sendiri “woi bangun jam 3 ya lu”, dan tara pas jam 3.00 gue terbangun dari tidur.

Bahkan gue pernah salah ngeliat jadwal (kecepatan sehari) dan tetap bisa bangun tepat jam 4.00.

Sekarang? Bahkan pas nonton El Clasico gue ngantuk, sampai sempat mikir “gila gue dulu sampe pertandingan dengan klub kecil yang anti-klimaks aja nonton mulu”.

Atau tentang cinta.

Dulu gue pernah suka sama seseorang pas SMP, dan sempat berdoa, “Ya Allah saya gak butuh yang lebih baik dari dia, saya hanya butuh dia Ya Allah”.

Dan sekarang gue bingung kenapa gue pernah berdoa kayak gitu, bahkan setelah gue pikir-pikir ‘dia’ itu bukan tipe gue banget. 

Itulah yang membuat gue agak skeptis dengan anggapan ‘cinta yang abadi’, gue kadang mikir bahwa seseorang mempertahankan pernikahannya bertahun-tahun bukan karena cinta, tapi karena anak, atau gakmau repot ngurusin perceraian.

Atau kalau ingin sedikit optimis, mungkin orang itu telah menemukan orang yang bisa dicintai untuk sekarang, untuk tahun depan, dan seterusnya.

Simpelnya begini; Misalnya gue menikahi Ra karena kesamaan hobi kita membaca buku, lima tahun kemudian rasa cinta karena hobi membaca itu hilang, tapi justru berganti karena kali ini gue mencintai Ra karena kami sama-sama menyukai berkeliling dunia, dan sepuluh tahun kemudian rasa cinta gue hilang dan berganti dengan gue mencintainya karena hal lain.

Ini mengingatkan gue dengan salah satu adegan Cinta Dalam Kardus, filmnya Raditya Dika dimana dia memberikan pot tanah dengan bibit bunga (bukannya bunga mawar yang udah jadi) kepada gebetannya dan berkata, “Mari kita sama-sama menumbuhkan bunga ini”.

Mungkin ini hanya tentang bagaimana kita mengubah perspektif kita terhadap orang yang kita cintai, tapi gue rasa ini juga tentang menemukan orang yang bisa kita cintai terus menerus, menemukan orang yang ketika kita bosan dan jenuh dengannya, ternyata kita bisa mencintainya untuk alasan lain.

But will I find that kind of person? 

Realisme Sosial Lenny Abrahamson

Frank, salah satu karya Lenny Abrahamson 

Bung Karno meminta, bahkan menangisi, agar tidak dimasukkan hak-hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar Indonesia.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Kita rancangkan Undang-Undang Dasar dengan kedaulatan rakyat, bukan individu!

Tan Malaka mengatakan, bahwa untuk kemerdekaan umum, orang-orang harus merelakan kemerdekaan dirinya sendiri. 

Gue langsung teringat novel 1984 karya George Orwell, tentang orang-orang yang hidupnya diawasi pemerintah, mulai dari tidur, makan, berak… 

Gak heran. Karena 1984 sendiri ramalan George Orwell tentang bagaimana jika ideologi komunis menjadi ideologi negara-negara di dunia. 

Dan Soekarno, Tan Malaka, adalah dua orang yang kita hormati karena turut berjasa dalam mendirikan apa yang kita sebut Indonesia, juga dua orang yang ideologinya komunis, atau cenderung ke komunis. 

Di jaman Soekarno, bermacam-macam lembaga yang berakar ke PKI yang masuk ke tatanan masyarakat, salah satunya Lekra (Lembaga Kedaulatan Rakyat) yang mengusung realisme sosial sebagai aliran seni para pelukis, penulis, penyanyi dan seniman dari berbagai bidangnya.

Tapi jika Lenny Abrahamson adalah orang Indonesia, dan membuat film di jaman kita masih mempunyai Lekra, mungkin Lekra justru akan membabat habis-habisan sutradara film asal Irlandia ini–sebagaimana mereka membabat para seniman yang berbeda aliran dengan mereka di jamannya.

Realisme sosial, pada pengertiannya adalah aliran seni tentang realita yang ada diantara masyarakat. Lekra mengartikannya dengan sempit, dengan gambaran bahwa masalah di dunia ini seolah-olah hanya soal kemiskinan atau semua masalah di dunia ini berakar dari kemiskinan, Lenny Abrahamson menggambarkannya dengan cara yang berbeda.

Tonton film-filmnya, Lenny Abrahamson justru memperlihatkan bahwa seorang individu selalu mempunyai kesunyiannya sendiri, terlepas dari kaya atau miskin orang tersebut. 

Di Garage, dia memperlihatkan seorang penjaga pom bensin yang mempunyai kesulitan dalam memahami norma-norma orang sekitarnya. Di Frank, dia memperlihatkan seorang musisi yang  sangat tidak percaya diri sehingga harus selalu memakai kepala buatan sebagai topengnya. Juga film-film lainnya seperti Room, dan What Richard Did. 

Lenny Abrahamson dan pemahamannya soal realisme sosial. Lekra dan pehamannya soal realisme sosial. Bung Karno. Tan Malaka. 

Semua itu seolah memperlihatkan ke gue bahwa walaupun masyarakat tanpa kelas terwujud (sebagaimana impian para komunis), masih akan ada banyak masalah di dunia ini; seorang introvert yang depresi karena terus menerus dibully, atau seorang yang bunuh diri karena putus asa akan cintanya. 

Film Lion dan Adopsi Anak

Ada satu scene yang masih membekas buat gue dari film Lion, yaitu scene dimana Sue Brierley, mengaku kepada Saroo, anak angkatnya bahwa ia mengadopsinya bukan karena tidak  bisa mempunyai anak; tetapi karena merasa bumi sudah terlalu penuh dan lebih banyak diisi orang-orang yang  kurang beruntung. 

Di negara seperti Jepang dan Jerman, pemerintahannya kelayapan karena penduduknya tergolong terlalu malas untuk meneruskan keturunan. Di China, pemerintahannya justru kelayapan karena penduduknya udah banyak banget (bahkan ada berita soal ibu hamil yang dipaksa aborsi sama pemerintah China, bisa dibaca disini)

Poin dari apa yang saya omongin soal negara-negara itu? Entahlah hehe.

Ada hadis dari Rasulullah tentang beliau yang ingin melihat banyaknya keturunan Muslim di hari kiamat, dimana hadis ini menjadi salah satu alasan orang-orang yang mengaku ‘paham agama’ menentang KB; bahkan ada yang menuduhnya sebagai konspirasi Yahudi lah…

Tapi apa itu artinya Rasulullah ingin kita memperbanyak jumlah reproduksi kita? Kawin tanpa kenal lelah dengan niat berjihad?  

Sekarang, dari apa yang gue liat, banyak orang Islam bersikap ofensif, kafirin sana kafirin sini bahkan dengan saudara seiman sendiri. Padahal kalau emang yakin mereka ‘kafir’, kenapa gak diajak dapat hidayah dengan halus? Bukankah itu juga makna ‘memperbanyak keturunan Muslim di hari kiamat kelak’?

Gak adakah orang-orang seperti Hasan Al Banna yang bersikap bijaksana ketika Sayyid Quthb (sebelum mendapatkan hidayah) banyak menulis kebenciannya terhadap agama dalam tulisannya dalam koran-koran di Mesir?

Atau ya, mungkin seperti Sue Brierley dalam film Lion (sebenarnya gue gak perlu menyebutkan film Lion, karena ini kisah nyata), bukankah mengadopsi anak yang kurang beruntung juga bagian dari ‘memperbanyak keturunan Muslim di hari kiamat kelak’?

Lalu kemudian ada yang mengatakan gue sembarangan tafsirin hadits, mengatakan gue gak punya kapasitas apa-apa untuk nafisirin hadits itu.

Entahlah, yang gue ingat adalah; ketika Rasulullah diperbolehkan menikah dengan lebih dari 4 wanita, beliau justru memilih menikah dengan janda-janda tua korban perang, dan Aisyah ra adalah satu-satunya istri yang beliau nikahi dalam keadaan perawan.

NB: Mohon koreksi kalau ada fakta-fakta yang salah dalam tulisan ini 🙂 

Dream’s Note: Buku Merah Terlarang

21-2-2017 (lupa tahun pas nulis di note) 

Di perpustakaan sekolah gue, ada buku-buku terlarang berwarna merah, dimana buku-buku itu hanya boleh dibaca para guru dengan titel Syekh di sekolah gue. 

Teman gue, Saad diem-diem minjem buku itu dan memasukkan buku itu ke tas gue karena bingung bagaimana mengembalikannya.

Gue kemudian ketahuan sama penjaga perpustakaan membawa buku merah itu, dan kemudian diinterogasi habis-habisan di perpustakaan.

***

Analisis:

Uni Emirat Arab sebenarnya bisa dibilang Arab ‘modern’, kalau ke pantai Dubai aja bakal ngeliat tuh cewek-cewek pakai bikini.

Tapi freedom of speech disini masih kurang, khotib Jum’at satu negara aja khotbah dengan teks yang sama yang kalau diubah satu huruf aja bisa dipenjara.

Selain itu, gue sering dinasehatin teman-teman yang menganggap diri mereka ‘religius’ dan ‘agamis’ bahwa kita sebagai orang awam ngikut apa kata Syekh kita aja, biarin mereka yang mikir.

Mungkin dua hal itu yang membuat gue bermimpi soal buku merah terlarang ini. 

Dream’s Note: Raditya Dika Khotbah Jum’at

(Sebenarnya udah pernah nulis ini beberapa kali di blog ini, tapi akhir-akhir ini dapat mimpi yang lumayan unik jadi gue mulai nulis mimpi lagi, dan bedanya sekarang gue juga nulis analis mimpi gue secara abal-abal)

20-2-2017 (lupa tahun pas nulis ini di note) 


Gue sedang berada di sekolah, ngumpul sama teman-teman alumni di SMP gue.

Gue ngobrol sama seorang teman yang muncul di beberapa mimpi gue sebelumnya,

“Eh, gue mimpiin lu dua atau tiga kali loh beberapa hari ini”

(Dan gue gak nyadar kalo ternyata itu juga mimpi, haha)

Kemudian waktu sholat Jum’at tiba, gue kemudian sholat Jum’at di mesjid SMP gue.

Saat masuk, gue kaget karena yang jadi Raditya Dika, memakai peci hitam, sedang menyampaikan khotbah Jum’at.

Kemudian ternyata Raditya Dika dalam mimpi gue adalah kader PKS, sekaligus pendukung Anies-Sandi di pilgub DKI.

***

Analisis:

Adegan khotbah Jum’at di mesjid SMP gue adalah untuk menyimpan ingatan tentang gue yang saat di Indonesia mengisi khotbah Jum’at di sekolah gue dua kali.

Dan kenapa Raditya Dika? 

Mungkin karena gue yang akhir-akhir ini sedang mikir soal Raditya Dika yang memilih netral dan gak ikut-ikutan kisruh politik DKI Jakarta.

Sementara para artis yang dulu diam aja ngeramein konser Gue Dua yang ngedukung Ahok, mulai dari Iwa K, Krisdayanti, walaupun tentu aja pasti ada artis-artis yang dari awal sudah concern soal politik seperti Tompi. 

Dan Pandji yang dari dulu concern soal politik, banyak bersikap dalam sosial politik seperti kasus Munir, dan mendukung Faisal Basri sebagai calon independen di Pilgub DKI sebelumnya, justru dihina-hina dan dituduh-tuduh haus jabatan.

(Bukan Review) Buku: Bumerang 

Judul Buku: Bumerang

Penulis: Arini Rachmatika

Penerbit: Nekad Publishing 

Gue antara berharap banyak dan bersiap kecewa untuk buku yang ditulis oleh temannya Gabriel ini. Walaupun tulisan-tulisannya sudah sering gue baca di blognya (tikuskeles.blogspot.co.id), tapi gue juga bersiap untuk kemungkinan kesalahan disana-sini karena setau gue ini novel pertamanya.

Tapi ternyata setelah gue baca, gakada tuh pikiran “ah wajarlah masih pemula” dsb. I really enjoyed it. 

Gue sudah banyak membaca buku-buku yang ditulis teman gue sendiri, beberapa ada yang gue beli sekedar untuk solidaritas, beberapa ada yang gue beli karena emang gue yakin bukunya bagus. Udah dua kali gue melakukan hal yang kedua, alhamdulillah masih beruntung. 

Oke, kembali ke buku Bumerang ini.

Gue membaca buku ini setelah membaca Tentang Kamu-nya Tere Liye, yang ternyata dua-duanya sama-sama memakai alur cerita flashback.

Tapi berbeda dengan bukunya Tere Liye memiliki tokoh yang luar biasa dengan cerita hidup yang luar biasa, di novel Bumerang kita akan mendapatkan tokoh biasa dengan cerita hidup  yang biasa–atau bisa dibilang sial, bahkan.

Kisahnya dimulai dengan kehidupan Ra yang sudah dewasa, dengan latar yang suram–kehidupan yang seolah anti-sosial, kehidupan yang berjalan dengan makan-tidur-kerja-makan-tidur-kerja..

Didukung dengan lagu Guts Over Fearnya Eminem yang gue dengar sambil baca buku ini.

Lalu flashback yang dimulai dengan cara yang unik dan agak sedikit surealis–Ra tanpa sadar mengucap ‘kampung halaman’ saat memesan tiket, dan itulah yang tertera di tiketnya.

Flashback kemudian dimulai.
Ra Kecil yang menghabiskan kenakalan masa kecil bersama Am.

Ra Remaja yang menikmati masa muda bersama Dam dan Kal.

Ra Dewasa dengan cinta, juga cerita kenapa ia bisa menjadi sesuram di awal cerita. 

Sebenarnya gue sempat mikir apa yang bikin gue seneng sama buku ini, padahal ceritanya biasa-biasa aja. 

Penokohan yang kuat, keknya setelah gue pikir-pikir. Setiap tokoh dalam ini bagi gue memiliki karakter yang kuat dan bukan menuh-menuhin adegan doang. Dari Kal, sampai ke guru-gurunya Ra saat remaja menurut gue yang memiliki karakter paling kuat.

Tapi selain penokohan yang kuat, kayaknya emang cerita yang biasa itu kadang justru jadi daya tarik tersendiri, karena relatable sama kehidupan kita.

Well…

Oiya, buku ini membuat gue kembali memberi harapan ke gue bahwa masih banyak penulis-penulis cewek yang bagus, yang gak menulis dengan gaya super-sentimentil yang menggelikan.