Ritual Memanggil Tuyul 

Kalo lu pikir orang-orang Persatuan Pelajar Indonesia adalah kumpulan nerd dengan obrolannya yang serius, anda salah besar! Huahahahha.

Let me tell you why.

Jadi di PPPI Al-Ain, Uni Emirat Arab, ada sebuah ritual memanggil tuyul.

Tapi tentu aja, ini bukan ritual sembarangan.

Salah satu junior (yang paling idiot, tentunya), akan disuruh untuk wudhu, membuka baju, celana, dan celana dalam.

Lalu dia akan dibawa para senior ke salah satu kamar yang lampunyanya akan dimatikan.  

Kemudian, ia akan disuruh membuka sarungnya dan sebuah bb murahan akan merekam kejadian itu. 

Para senior akan mengatakan bahwa ttuyuilnya ngumpet di dalam situ, while in fact itu sebenarnya ngerekam titit HAHAHAHHAH.

Karena titit junior saat itu sangat berbulu dan jorok, senior gue pada bilang,

“BUKAN TUYUL INI, INI MAH JENGLOT!”

And you know what’s even funnier?

Dia percaya!

Huahahahahahhahah.

Malah nanya, “Hah mana kok saya gak liat!?”

Asli ngakak ngeliatnya.

Bodoh dipelihara

Regret

Regret

​Ada sebuah artikel yang pernah dia baca, bahwa orang-orang di Barat mulai jarang ke klub akibat aplikasi Tender.
Klub, yang dulunya jadi ajang pencarian jodoh, ditinggalkan karena adanya Tender yang lebih menghemat waktu dan biaya untuk mencari pasangan hidup atau sekedar one night stand.

Dia kemudian sadar, bahwa selama ini begitulah hubungannya  bermula; berawal dari sms, atau setelah internet datang berawal dari internet.

Jaman SMP dulu, di SMPnya  orang yang menyatakan cinta lewat sms itu bakal dikatain pengecut.

Dulu dia pikir itu berlebihan, tapi setelah ngeliat gimana internet ngubah pola hubungan, dia rasa hal itu ada benernya.

Karenanya, dia punya sebuah penyesalan.

Waktu itu dia sedang dalam perjalanan Purwokerto-Jogja dengan kereta, untuk menghadiri pernikahan temannya.

Kemudian dia bertemu seorang perempuan yang awalnya bertampang agak sinis saat melihat dia. 

Karena tampang sinis itu dan perempuan itu duduk tepat di depannya berdasarkan tiket, dia akhirnya memilih membaca buku Kinanthi yang ditulis oleh Tasaro GK untuk menghindari suasana yang aneh.

Perempuan itu tampangnya agak berubah, dan kemudian juga mengeluarkan buku Architecture of Love yang ditulis oleh Ika Natassa dan membacanya.

Singkat cerita, dia yang kaget menemukan perempuan pecinta buku–yang jarang ia temui, langsung mengajak perempuan itu untuk berbicara satu sama lain.

Dan sepertinya perempuan itu juga menginginkan itu.

Mereka berbicara tentang banyak hal–yang tentu saja berhubungan dengan buku; Dilan, Pidi Baiq, Habiburrahman El Shirazy, Critical Eleven..

Waktu berlalu cepat, kereta telah sampai.

Dia kemudian meminta kontak BBM perempuan itu, dan mereka melangkah keluar.

Diluar, perempuan yang melangkah duluan itu terlihat seperti menoleh berkali-kali seolah menyiratkan sesuatu.

Tapi dia yang bodoh seolah tidak sadar padahal melihatnya, kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan perempuan itu.

Itu penyesalan yang pertama.

Yang kedua, adalah hpnya beberapa saat kemudian rusak dan kontak BBM perempuan itu terhapus. 

Setahun kemudian, dia menyadari bahwa BBM bisa dibuka di hp lain asal dengan akun yang sama. 

Tapi telat, perempuan itu sudah tidak memakai BBM, BBM sepertinya memang sudah tidak zamannya lagi. Sudah ada Line, Whatsapp, dan aplikasi lainnya. Orang-orang pun juga sudah beralih ke Android.

Maka, surat menyurat denganmu adalah caranya untuk mencoba menghapus penyesalan itu, atau setidaknya menguranginya sedikit saja. 

​​





Angga Sasongko dan Idealisme

Angga Sasongko dan Idealisme

Tembok kantor Visinema Pictures. 

Gue baru aja nonton Filosofi Kopi 2, dan gue senang bagaimana di film ini kematian ibu Ben karena sengketa perusahaan kelapa sawit dan ayahnya yang petani kopi diceritakan lebih eksplisit. 

Bukan hanya itu saja, selain tiket bioskop Filosofi Kopi 2 bisa ditukarkan segelas kopi di kedai Filosofi Kopi yang terdapat di Jakarta dan Jogja, membeli satu tiket Filosofi Kopi 2 berarti memberi satu benih kopi untuk petani di lereng Merapi. 

Satu hal yang gue liat dari hal-hal itu: idealisme Angga Dwimas Sasongko sebagai seorang sinematografer. Terlepas dari bagaimana abstraknya apa yang disebut idealisme itu sendiri. 

Kadang kita kesal ngeliat kualitas sinema di Indonesia yang kok kayak gak tertolong banget, sampai kadang gue bertanya, “Apa iya kualitas para sinematografer Indonesia seburuk itu?”

Jawabannya? 

Ternyata, enggak juga.

Kita ambil contoh deh, sinetron yang selalu jadi bahan ejekan di fenspej-fenspej meme wibu yang suka ngebandingin sinetron sama anime. 

Gue pernah baca di Vice yang bikin wawancara dengan salah satu tim kreatif Anak Jalanan, bahwa “kita tuh enggak kekurangan penulis cerita bagus, sebenarnya”. 

Hanya saja tuntutan pemilik modal lah yang bikin kualitas cerita sinetron hancur. 

Penulis skenario sinetron yang diwawancarai Vice juga berkata, bahwa dia pernah membuat skenario yang justru ditolak mentah-mentah karena “too intellegent”.

Angga Dwimas Sasongko, menyadari hal ini, makanya dia mendirikan Production House sendiri yang bernama Visinema Pictures atau bisa dibilang Production House yang menghadirkan sinema dengan visi.

Lihat aja deh film-film Visinema Pictures sejauh ini;

Cahaya dari Timur yang mengangkat soal sentralisasi Jawa, Surat dari Praha yang mengangkat soal mahasiswa buangan jaman Orde Baru, Filosofi Kopi yang mengangkat soal petani kopi… 

(Untuk Bukaan 8, gue belum nonton jadi gaktau tuh film ngangkat soal apa hueheheh)

Dan meskipun menampilkan idealisme dalam sinematografinya, Angga tidak melupakan sisi komersil dalam film ini sehinnga film ini tidak hanya idealis, tapi juga bisa dinikmati banyak orang. 

Mungkin, seperti kutipan Tan Malaka yang dipajang di tembok kantor Visinema Pictures, Angga sadar bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”.

Dan meskipun sudah beristri dan mempunyai satu anak, Angga tidak mau kehilangan kemewahan itu. 

Film Ruby Sparks dan Mencintai Mayat

Ada salah satu berita unik yang pernah gue baca, tentang seorang pengusaha Jepang yang meninggalkan istri dan anaknya demi boneka seks.

Awalnya boneka seks pengusaha Jepang ini hanya dipakai untuk pelampiasan karena pengusaha ini kesepian harus tinggal di Tokyo meninggalkan keluarganya di Nagano untuk menjalankan bisnis.

Tapi kemudian bukan hanya menjadi pelampiasan seks, boneka seks itu akhirnya menjadi kekasihnya yang membuat ia meninggalkan keluarganya.

“Dia tidak pernah membuat saya bosan, tidak seperti manusia yang selalu rasional. Saori lebih dari sekedar boneka, ia adalah pasangan yang sempurna”, katanya.

Boneka seksnya itu pun ia benar-benar perlakukan sebagai kekasih. Ia ajak menonton bersama, ia ajak berjalan-jalan, dia belikan pakaian untuknya..

Hal serupa bukan hanya terjadi baru-baru ini.

Dulu, ada yang namanya Necrophilia, yaitu kelainan seksual yang menjadikan mayat sebagai objeknya.

Dan dari 34 kasus, 68% alasannya adalah karena tidak adanya tindakan rasional berupa penolakan atau perlawanan dari mayat, dimana kadang pasangan sendiri akan menolak hubungan badan jika sedang ‘tidak mood’. 

Mayat akan menuruti tindakan seksual apapun yang dikehendaki. Dan dalam kasus boneka seks, itu lebih. Boneka seks akan ikut menonton film apapun yang kita tonton, akan ikut berjalan kemanapun kita bawa.

Ada beberapa jenis perfeksionisme, salah satunya adalah perfeksionisme terhadap orang lain dimana seseorang memberi ekspektasi yang lebih terhadap orang lain.

Yang kita bicarakan saat ini adalah perfeksionisme terhadap pasangan hidup, dimana banyak dari kita (gue gak sih, jomblo soalnya heuheu), menaruh ekspektasi tinggi terhadap pasangan kita, menginginkan agar si doi (pacar/istri) selalu sejalan dengan apa yang kita mau. 

Yang bersetubuh dengan mayat mungkin kecewa terhadap pasangannya yang menolak jika tidak ‘mood’ atau menolak untuk melakukan bermacam-macam gaya seksual. 

Yang bersetubuh dengan boneka seks hingga bahkan menjadikannya kekasih, mungkin mengalami kekecewaan yang sama, ditambah mungkin kecewa karena istrinya tidak menyukai acara TV favoritnya, atau istrinya ternyata tidak menyukai tempat untuk berlibur yang ia pilih; padahal awalnya istrinya mengatakan ‘terserah’. 

Seperti itu pula yang terjadi pada Calvin (Paul Dano) dalam film Ruby Sparks, ia tidak bisa menemukan wanita yang ia idamkan, sehingga ia bahagia bukan main ketika Ruby Sparks (Zoe Kazan), sosok wanita ideal fiktif ciptaannya yang ia tulis di mesin tiknya tiba-tiba muncul di dunia nyata dan menjadi kekasihnya.

Tapi ternyata, Ruby Sparks yang bahkan merupakan tokoh ciptaannya pun tidak bisa memenuhi ekspektasinya hingga akhirnya mereka berpisah. 

Mungkin itu pula yang akan terjadi terhadap orang-orang yang memilih mencintai boneka seks dan mayat, yang tidak mau menerima pasangan hidupnya apa adanya. Yang tidak menyadari bahwa dirinya pun tidak sempurna. 


Changes

 “That’s just the way it is, things will never be the same” – Tupac Shakur

Bumi berputar, dunia berubah. Dalam lagu Changes, Tupac berkata bagaimana Amerika tidak siap mempunyai presiden hitam, hanya kurang lebih sepuluh tahun kemudian Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Tapi gue sekarang gak pengen ngomong berat, dan lebih pengen berbicara tentang perubahan-perubahan kecil yang terjadi terhadap kita dan sekitar kita.

Setiap tahun, kita adalah individu yang berbeda, kata Steven Spielberg. Dan itu menurut gue benar sekali.

Gue gaktau apakah itu namanya proses pendewasaan. Tapi kadang kita berubah yaa berubah aja. Bukan karena menjadi lebih dewasa; kadang malah menjadi lebih konyol, kadang malah tidak begitu mempengaruhi kedewasaan ataupun ketidakdewasaan.

Gue bahkan kadang merasa diri gue yang dulu berbeda banget dengan diri gue yang sekarang, seolah-olah dua jiwa yang berbeda yang berganti  shift dalam mengisi raga gue.

Gue dulu fans Madridista yang fanatik abis yang bisa bangun tengah malam tanpa alarm cuman untuk nonton pertandingan Madrid.

Dan kalau dipikir ajaib juga, karena gue cuman butuh tau jam berapa pertandingan itu bakal main, ngomong ke diri sendiri “woi bangun jam 3 ya lu”, dan tara pas jam 3.00 gue terbangun dari tidur.

Bahkan gue pernah salah ngeliat jadwal (kecepatan sehari) dan tetap bisa bangun tepat jam 4.00.

Sekarang? Bahkan pas nonton El Clasico gue ngantuk, sampai sempat mikir “gila gue dulu sampe pertandingan dengan klub kecil yang anti-klimaks aja nonton mulu”.

Atau tentang cinta.

Dulu gue pernah suka sama seseorang pas SMP, dan sempat berdoa, “Ya Allah saya gak butuh yang lebih baik dari dia, saya hanya butuh dia Ya Allah”.

Dan sekarang gue bingung kenapa gue pernah berdoa kayak gitu, bahkan setelah gue pikir-pikir ‘dia’ itu bukan tipe gue banget. 

Itulah yang membuat gue agak skeptis dengan anggapan ‘cinta yang abadi’, gue kadang mikir bahwa seseorang mempertahankan pernikahannya bertahun-tahun bukan karena cinta, tapi karena anak, atau gakmau repot ngurusin perceraian.

Atau kalau ingin sedikit optimis, mungkin orang itu telah menemukan orang yang bisa dicintai untuk sekarang, untuk tahun depan, dan seterusnya.

Simpelnya begini; Misalnya gue menikahi Ra karena kesamaan hobi kita membaca buku, lima tahun kemudian rasa cinta karena hobi membaca itu hilang, tapi justru berganti karena kali ini gue mencintai Ra karena kami sama-sama menyukai berkeliling dunia, dan sepuluh tahun kemudian rasa cinta gue hilang dan berganti dengan gue mencintainya karena hal lain.

Ini mengingatkan gue dengan salah satu adegan Cinta Dalam Kardus, filmnya Raditya Dika dimana dia memberikan pot tanah dengan bibit bunga (bukannya bunga mawar yang udah jadi) kepada gebetannya dan berkata, “Mari kita sama-sama menumbuhkan bunga ini”.

Mungkin ini hanya tentang bagaimana kita mengubah perspektif kita terhadap orang yang kita cintai, tapi gue rasa ini juga tentang menemukan orang yang bisa kita cintai terus menerus, menemukan orang yang ketika kita bosan dan jenuh dengannya, ternyata kita bisa mencintainya untuk alasan lain.

But will I find that kind of person? 

Realisme Sosial Lenny Abrahamson

Frank, salah satu karya Lenny Abrahamson 

Bung Karno meminta, bahkan menangisi, agar tidak dimasukkan hak-hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar Indonesia.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Kita rancangkan Undang-Undang Dasar dengan kedaulatan rakyat, bukan individu!

Tan Malaka mengatakan, bahwa untuk kemerdekaan umum, orang-orang harus merelakan kemerdekaan dirinya sendiri. 

Gue langsung teringat novel 1984 karya George Orwell, tentang orang-orang yang hidupnya diawasi pemerintah, mulai dari tidur, makan, berak… 

Gak heran. Karena 1984 sendiri ramalan George Orwell tentang bagaimana jika ideologi komunis menjadi ideologi negara-negara di dunia. 

Dan Soekarno, Tan Malaka, adalah dua orang yang kita hormati karena turut berjasa dalam mendirikan apa yang kita sebut Indonesia, juga dua orang yang ideologinya komunis, atau cenderung ke komunis. 

Di jaman Soekarno, bermacam-macam lembaga yang berakar ke PKI yang masuk ke tatanan masyarakat, salah satunya Lekra (Lembaga Kedaulatan Rakyat) yang mengusung realisme sosial sebagai aliran seni para pelukis, penulis, penyanyi dan seniman dari berbagai bidangnya.

Tapi jika Lenny Abrahamson adalah orang Indonesia, dan membuat film di jaman kita masih mempunyai Lekra, mungkin Lekra justru akan membabat habis-habisan sutradara film asal Irlandia ini–sebagaimana mereka membabat para seniman yang berbeda aliran dengan mereka di jamannya.

Realisme sosial, pada pengertiannya adalah aliran seni tentang realita yang ada diantara masyarakat. Lekra mengartikannya dengan sempit, dengan gambaran bahwa masalah di dunia ini seolah-olah hanya soal kemiskinan atau semua masalah di dunia ini berakar dari kemiskinan, Lenny Abrahamson menggambarkannya dengan cara yang berbeda.

Tonton film-filmnya, Lenny Abrahamson justru memperlihatkan bahwa seorang individu selalu mempunyai kesunyiannya sendiri, terlepas dari kaya atau miskin orang tersebut. 

Di Garage, dia memperlihatkan seorang penjaga pom bensin yang mempunyai kesulitan dalam memahami norma-norma orang sekitarnya. Di Frank, dia memperlihatkan seorang musisi yang  sangat tidak percaya diri sehingga harus selalu memakai kepala buatan sebagai topengnya. Juga film-film lainnya seperti Room, dan What Richard Did. 

Lenny Abrahamson dan pemahamannya soal realisme sosial. Lekra dan pehamannya soal realisme sosial. Bung Karno. Tan Malaka. 

Semua itu seolah memperlihatkan ke gue bahwa walaupun masyarakat tanpa kelas terwujud (sebagaimana impian para komunis), masih akan ada banyak masalah di dunia ini; seorang introvert yang depresi karena terus menerus dibully, atau seorang yang bunuh diri karena putus asa akan cintanya. 

Film Lion dan Adopsi Anak

Ada satu scene yang masih membekas buat gue dari film Lion, yaitu scene dimana Sue Brierley, mengaku kepada Saroo, anak angkatnya bahwa ia mengadopsinya bukan karena tidak  bisa mempunyai anak; tetapi karena merasa bumi sudah terlalu penuh dan lebih banyak diisi orang-orang yang  kurang beruntung. 

Di negara seperti Jepang dan Jerman, pemerintahannya kelayapan karena penduduknya tergolong terlalu malas untuk meneruskan keturunan. Di China, pemerintahannya justru kelayapan karena penduduknya udah banyak banget (bahkan ada berita soal ibu hamil yang dipaksa aborsi sama pemerintah China, bisa dibaca disini)

Poin dari apa yang saya omongin soal negara-negara itu? Entahlah hehe.

Ada hadis dari Rasulullah tentang beliau yang ingin melihat banyaknya keturunan Muslim di hari kiamat, dimana hadis ini menjadi salah satu alasan orang-orang yang mengaku ‘paham agama’ menentang KB; bahkan ada yang menuduhnya sebagai konspirasi Yahudi lah…

Tapi apa itu artinya Rasulullah ingin kita memperbanyak jumlah reproduksi kita? Kawin tanpa kenal lelah dengan niat berjihad?  

Sekarang, dari apa yang gue liat, banyak orang Islam bersikap ofensif, kafirin sana kafirin sini bahkan dengan saudara seiman sendiri. Padahal kalau emang yakin mereka ‘kafir’, kenapa gak diajak dapat hidayah dengan halus? Bukankah itu juga makna ‘memperbanyak keturunan Muslim di hari kiamat kelak’?

Gak adakah orang-orang seperti Hasan Al Banna yang bersikap bijaksana ketika Sayyid Quthb (sebelum mendapatkan hidayah) banyak menulis kebenciannya terhadap agama dalam tulisannya dalam koran-koran di Mesir?

Atau ya, mungkin seperti Sue Brierley dalam film Lion (sebenarnya gue gak perlu menyebutkan film Lion, karena ini kisah nyata), bukankah mengadopsi anak yang kurang beruntung juga bagian dari ‘memperbanyak keturunan Muslim di hari kiamat kelak’?

Lalu kemudian ada yang mengatakan gue sembarangan tafsirin hadits, mengatakan gue gak punya kapasitas apa-apa untuk nafisirin hadits itu.

Entahlah, yang gue ingat adalah; ketika Rasulullah diperbolehkan menikah dengan lebih dari 4 wanita, beliau justru memilih menikah dengan janda-janda tua korban perang, dan Aisyah ra adalah satu-satunya istri yang beliau nikahi dalam keadaan perawan.

NB: Mohon koreksi kalau ada fakta-fakta yang salah dalam tulisan ini 🙂