Catatan Merbabu (3-Tamat) : Bendera Palestina yang Terbalik dan Menyatu Dengan Alam!

DSC03597.JPG

Kayaknya emang lebih afdol kalo ngejelasin pake petanya.

Jadi dari basecamp Selo (warna kuning paling bawah), jam 5 sore kami memulai perjalanan kami.

Karena kami mempunyai target puncak besok pagi, maka kami pun jalan teruuuus sambil beberapa kali istirahat, dari Basecamp, ke Pos Bayangan, kemudian sampai ke Pos Satu hari sudah gelap dan kami memutuskan untuk berhenti memakan perbekalan kami dengan hemat berupa kacang-kacangan dan coki-coki (sekaligus memakai headlamp kami, agak lupa sih ini makenya di Pos Bayangan atau di Pos Satu)

choki-choki-chocolate-paste-11g-x-5-halal-bigbigmart-1509-18-christrakeo@17

(credit to: lelong.com.my)

Menurut Rohim, choki-choki ini bagus untuk menahan lapar, karenanya saat membeli logistik di Jogja saya membeli ini agak banyak heuheuheu.

Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai Pos Dua, istirahat makan perbekalan lagi, kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Saat sampai di savana satu dan dua, kami melihat banyak orang-orang yang memasang tenda disana, kami pun kemudian memanggil-manggil teman kami (Miqdad dan temannya yang kemudian kami ketahui bernama Ibrahim) yang sudah berangkat duluan.

“Miqdad, Miqdaad!” Rohim berteriak, tapi tak ada jawaban. Miqdad dan Ibrahim kemudian bertemu dengan kita justru saat turun dari puncak.

Miqdad memanggil Rohim dari puncak, akhirnya saat turun kami bertemu juga.

Awalnya saya mengira kami akan berkemah disini (mungkin pengaruh capek juga ya hehe), tapi ternyata kami kemudian masih melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di Jemblongan.

Sampai di Jemblongan jam 9 malam, kami yang kedinginan akhirnya sesegera mungkin memasang tenda (gak sempat moto, karena buru-buru banget pengen tendanya jadi).

Sekitar 45 menit, tenda pun jadi. Setelah membereskan barang-barang ke dalam tenda, kami pun akhirnya masuk kedalamnya menghangatkan diri.

Kami sholat jamak qoshor maghrib isya sambil memakai sleeping bag dan jaket parasut, kemudian akhirnya langsung jatuh tertidur sambil menggigil sekitar jam setengah sebelas malam, tidak lupa memasang alarm jam 3 karena target kami mencapai puncak saat sunrise.

Mungkin karena efek kedinginan, saya mimpi macem-macem saat itu, sampai Ridwan pun setelah kami bangun bercerita bahwa saya beberapa kali ngigo.

Tapi mending lah ya, setahu saya banyak cerita pendaki gunung soal teman-temannya yang ketika sudah hampir mencapai puncak dan mengalami kedinginan yang amat sangat akhirnya menjadi sedikit ngaco. Bahkan pernah mendengar cerita sampai ada yang makan daun ngiranya pizza segala, hahaha.

Sekitar jam 3.30 kami terbangun, kami tinggalkan tenda dan barang-barang yang tidak diperlukan, kemudian saya pun hanya membawa tas carrier yang berisi perbekalan, air, dan kertas-kertas berisi tulisan, bendera Palestina (credit to KNRP hehe), dan buku Soe Hok Gie. Berangkat dari Jemblongan menuju Puncak.

DSC03449DSC03452

IMG_3627.JPG

Capeknya kerasa banget karena jalur menuju puncak yang asli dah coeg terjaaall abis mana baru bangun tidur, kami pun berkali-kali beristirahat sambil napas ngos-ngosan.

Awalnya sempat hampir menyerah, apalagi setelah sebelumnya bersama Rohim dan Ridwan mulai jauh di atas meninggalkan saya yang tertatih-tatih dibawah, namun ternyataa nyampe juga bungg!

IMG_3630

Sampai di puncak langsung sholat subuh, kayaknya kalo gak naik gunung jarang-jarang deh sholat subuh tepat waktu wkwkwk.

Sesi photo-photo di puncak kemudian dimulai.

Tapi tentu aja, tak ada daging yang tak retak, bendera Palestina ternyata kami pasang secara terbalik wkwkwk.

Yang harusnya hitamnya diatas ijonya dibawah malah kebalik, padahal udah keren-keren gayanya wkwkkw.

Hal ini baru saya ketahui setelah turun gunung dan mengirim foto-foto saya bersama bendera Palestina melalui Line ke Bang Hanbali yang meminjamkan bendera-benderanya kepada kami.

“Benderanya kebalik Dek,” katanya lewat chat. Bego.

Tapi ada juga pengalaman unik bertemu seorang blogger kompasiana.

Jadi ceritanya saya sedang merekam video sambil mengibar-ngibarkan bendera Palestina sambil berteriak,

“Rakyat Palestina! Salam dari puncak Merbabu! Salam kemerdekaan; yang merupakan hak segala bangsa!”

Lalu blogger kompasiana yang setelah berkenalan ternyata bernama Nonoy itupun mendatangi kami bersama istrinya, meminta izin berfoto dengan bendera Palestina.

 

Apa uniknya?

Pertama, karena dia blogger Kompasiana (yang menjadi alasan saya juga meminta foto bersamanya)

Kedua, karena dia minta foto pake bendera Palestina tapi rupanya pake kalung bintang David yang merupakan simbol bendera Israel, yang ini sih kampret bukan unik, mana gue nyadarnya habis fotoan haha.

Ketiga, karena dia hanya memakai kolor… dan itu ada hubungannya sama omongannya dia setelah berfoto-foto.

“Jadi saya make kolor ini, kalian tau kenapa? Karena saya sudah bersatu dengan alam..”

“Kalian tahu Abraham? Nabi Ibrahim? Tau kenapa dia bisa tahan api saat dibakar? Itu karena dia bersatu dengan alam, tapi saya belum bisa menyatu dengan panas. Baru bisanya dengan dingin”

Selain obrolan itu, dia juga banyak ngomong soal dia sering diundang Jokowi ke Istana Negara lah, ngomongin politik dunia lah, dan itu dilakukannya sambil megang-megang kalung bintang Davidnya, sialan.

Tapi percakapan yang saya tulis diatas lah yang paling saya ingat (dan yang paling saya ingin ingat), karena meskipun yang dia omongin ngaco, tapi masih ada hubungannya dengan tujuan kami naik gunung;

Menyatu dengan alam! Mengenal diri sendiri, yang insya Allah akan mengantar kami untuk mengenal Tuhan kami….

Catatan Merbabu (2): Mungkin Ganu Lelah

DSC03404

Kenalin dulu, Ridwan, temennya Rohim yang mengajak Ganu, tetangganya.

Bawaan kami beserta bekas dagangan supir pick-up.

Oiya, jadi berkaitan dengan bekas dagangan ini, Ridwan beranggapan bahwa sepertinya supir pick-up ini mau mengangkut kita hanya dengan lima ribu rupiah karena memang mereka sudah ingin pulang sehabis berdagang, dan hitung-hitung nambah hasil jadinya ya mereka mau beri kami tumpangan dengan hanya goceng, gak seratus sewu ae. Heheheh.

Pemandangan petak-petak sawah sepanjang perjalanan.

Setelah beberapa lama, kami pun sampai di depan jalan start Jalur Selo, didekat sana kami meminta berhenti dan membayar uang tumpangan kami.

IMG_3585.JPG

Ngeliatnya aja udah lemes, hfft.

Saya enggak inget kira-kira jam berapa kami sampai disini, tapi kira-kira sekitar waktu Zuhur tanggal 1 Januari.

Oiya, belum cerita ya kenapa kami memilih mendaki tanggal 1 Januari, jadi tujuan kami itu ngedaki tanggal 1 karena kalau tanggal 31 Januari pada rame tahun baruan di puncak, jadinya ntar sumpek hehehe.

Yak, perjalanan pun dimulai. Saya yang berfirasat perjalanan ini bakalan berat meneguk satu kapsul fatigon spirit (bukan endorse ye heuheuheu) yang udah saya siapkan dari awal. Saran dari Syuhada (sepupu saya) yang udah biasa naik gunung sih.

Melihat 3 orang selain saya (Ganu, Ridwan, dan Rohim), saya merasa saya paling lemah diantara mereka, apalagi badan saya paling kecil. Makanya fatigon spirit ini lumayan memompa semangat saya.

“Mas, udah mas, gak kuat saya, mau muntah!”

Bukan, itu suara gue, ternyata Ganu yang badannya gede belum nyampe satu kilometer udah nyerah, saya yang mengira saya yang paling lemah jadi bersyukur ternyata udah ada yang nyerah duluan wkwkwk.

DSC03420.JPG

Mungkin Ganu lelah.

Kami pun istirahat sebentar menunggu Ganu sambil berfoto-foto. Tapi karena Ganu tidak juga menunjukkan tanda-tanda mau melanjutkan perjalanan, akhirnya diputuskan saya dan Rohim berangkat duluan sedangkan Ridwan menemani Ganu.

Perjalanan pun berlanjut.

DSC03417.JPG

Semakin kami berjalan, semakin kami capek. Tentu saja heuheu. Tapi selain itu semakin kami berjalan atas kami menemukan banyak pohon pinus tumbuh, maka saya pun tidak menyia-nyiakannya dengan mengabadikannya dengan kamera tustel saya seperti yang bisa dilihat diatas (emang dasar kurang gaul, yang lain pake go pro/dslr, masih jaman aja pake tustel).

Saat kami sudah mendekati basecamp, tiba-tiba ada suara teriakan disertai suara motor,

“Duluan dulu mas broo!”

Sialan. Ternyata Ganu yang kelelahan akhirnya nebeng naik motor ke salah satu warga, saya sama Rohim cuman nyengir kampret (bukan nyengir kuda, soalnya nyengirnya sambil gondok gara-gara capek. Kampret: sejenis kelelawar).

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil sesekali berhenti, kemudian beberapa saat kemudian kami bertemu lagi dengan Ridwan yang ternyata sudah menyusul. Cepet juga nih anak, dalam hati saya.

Kami bertiga kemudian bersama-sama menuju basecamp.

Setelah sampai di basecamp, kami sempat kaget karena Ganu tidak ada di basecamp, padahal seharusnya dia sudah sampai duluan. Sempat mencari-cari barang setengah hingga satu setengah jam, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut memesan makanan.

(Dan ternyata setelah kami turun dari gunung Ganu telah pulang duluan ke Pondok Al-Irsyad, dan dia bercerita bahwa dia sudah menunggu di basecamp sangat lama hingga mutar berkali-kali juga mencari kami. Kemudian akhirnya ia memutuskan untuk pulang duluan. Entah bagaimana kenapa kami tidak berpapasan di jalan, yang jelas pada akhirnya Ganu hanya mentok sampai basecamp, hahaha)

DSC03436

DSC03438.JPG

DSC03434DSC03435

Memang pasnya makan indomie kuah dalam keadaan basecamp yang dingin berkabut.

Setelah jamak qoshor zuhur ashar, sekitar jam lima kami memulai perjalanan dari basecamp.

(Bersambung)

 

Catatan Merbabu (1): Seratus Sewu Ae!

Merbabu uwe datang!

Ga sabar dah asli buat pendakian pertama ini, walaupun capek karena semalaman tahun baruan di Malioboro dan pulang pun terhalang oleh macet sehingga sampai di rumah Rohim (selama di Jogja nginepnya disana) jam satu malam.

Rohim pun rada marah karena saya yang kepengen banget buat tahun baruan di Malioboro sampai kita gakada waktu istirahat, mana belum packing pula jam satu malam itu sehingga jam dua malam kita baru tertidur.

DSC03399

1451999182099

Dari kiri: Rohim, saya, Ega, Wafa. Ega dan Wafa adalah teman Purwokerto kita yang sedang libur di Jogja, tidak ikut naik gunung.

Untungnya meskipun tidur telat, kami tetap bangun pagi heuheu.

Pagi pun diawali dengan sarapan sek di teras rumah Rohim (penggunaannya udah bener belum ya? Ah tau deh yang jelas sehabis dari Jogja kata sebentar keganti sama kata sek hahaha).

DSC03358DSC03360

Yak! Sarapan selesai! Kami pun bersiap-siap mandi, tapi karena aliran air di rumah Rohim sedang mati. Kami akhirnya mandi pagi di sumur sebelah rumah.

usmag-5693fcff0523bdd50c3193ff

Gak sempat foto, tapi kira-kira beginilah saya waktu itu sehabis mandi di sumur (credit: usmagazine.com)

Setelah mandi, kami pun langsung siap-siap berangkat ke terminal bus, dari terminal bus di Yogyakarta kami berangkat ke Semarang, lalu dari Semarang kami berangkat ke Salatiga.

p-20160101-073913-bf-5693fe67c9afbd4916f3d0f0p-20160101-093620-bf-5693fe8563afbde20cbc9bd0

Rohim tidur di bus  

Kami pun lalu akhirnya sampai di Salatiga, tapi kami tidak berhenti di terminal melainkan di Pondok Al-Irsyad dimana disana berkumpul teman-teman pendaki lain yang merupakan teman pondok Rohim dulu.

Ternyata bukan hanya saya saja yang bukan anak Pondok Al-Irsyad yang mengikuti pendakian, selain Rohim, dua orang temannya (Mikdad dan Ridwan) pun mengajak teman luar pondok. Jadi bisa dibilang pendakian itu berisi 3 orang anak Pondok Al-Irsyad dan 3 orang anak luar Pondok Al-Irsyad. Mikdad bersama temannya tidak kami temui disana, sepertinya ia sudah pergi duluan ke basecamp Merbabu. Akhirnya kami berempat (saya, Rohim, Ridwan, dan Ganu temannya Ridwan) pun berangkat dari Pondok Al-Irsyad dengan beberapa angkot menuju Pasar Cepogo.

25PasarCepogo

(Credit: Solopos)

Di pasar Cepogo, sebenarnya sudah ada bus untuk menuju pertigaan jalur Selo tempat memulai pendakian. Tetapi untuk menghemat biaya akhirnya kami memilih untuk mencari tumpangan mobil pick-up pengangkut sayur-sayuran yang menuju ke arah yang sama yang tetap saja akan membayar ongkos tapi lebih murah.

Daaan.. disinilah kejadian yang jadi judul tulisan ini terjadi.

Jadi melihat kami yang melewati bus begitu saja, ada seorang supir pick-up yang ngotot-ngotot agar kami numpang di mobil pick-up miliknya.

“Seratus sewu ae mas!” katanya.

Kami mencoba menawar, jika seratus ribu untuk empat orang, hitungannya 25 ribu satu orang. Sedangkan jika kami naik bus 30 ribu satu orang,  sayang amat jika hanya untung 5 ribu.

“75 ribu mas!”

“Ah gak bisa mas, seratus sewu!”

“85 ribu deh mas!”

“Gak bisa mas, seratus sewu!”

Supir pick-up ini ngotot dengan harganya, akhirnya Ridwan yang sudah berpengalaman mengajak kita untuk meninggalkan saja dia. Tetapi ternyata kengototan supir pick-up tidak berhenti sampai disitu.

“Ayolah mas, seratus sewu ae loh!”

“Mas, ini sudah paling murah mas seratus sewu ae, sama yang lain mas dapatnya lebih mahal”

“Masnya ini gak percayaan lo saya ini udah paling murah seratus sewu ae!”

Tapi kami tetap acuh tak acuh, hingga akhirnya setelah mencari-cari ada supir pick-up lain yang setelah kami tanya-tanya mau memberikan tumpangan dengan bayaran lima sewu satu orang. Supir pick-up yang tadi ngototan itu pun beranjak pergi. Saat pick up akhirnya berjalan menjauhi, Ganu kemudian berteriak,

“Seratus sewu ae mbahmu!”

DSC03403

“Seratus sewu ae mbahmu!” kata Ganu. Ia kemudian berfoto dengan kamera saya…

(Bersambung)

Catatan Sekolah (2) : Bernard, I Can’t Bear You!

Bernard-Bear

Yak, kek judulnya. Ini bukan tentang Bernard the cute bear, ini tentang Bernard that anyone can’t bear with. Sebenarnya pengennya judulnya Bernard Anak Monyeng.

Jadi Bernard itu nama guru Sains di kelas saya, asal dari Afsel, dan asli dah ni guru jnedknsxgzuygxqwhbsjabyxguasywj abis, jauh banget dari namanya.

Jpeg
Jpeg

Pulpen Biru Bukan Pulpen Hitam!

HTB1wvgYFFXXXXXPXFXXq6xXFXXXr

Yang pertama, nih guru asli dah cerewet kalau bukan dikatakan bacot abis. Nulis tanggal harus digarisin, halaman buku tulis gak boleh ada yang kosong lah apalah.

Mending sih itu masih dalam batas wajar, lah ini malah baru-baru aja ngelarang murid pake pulpen hitam! What’s the point!?

Kalo misalnya ngelarang pake pensil yaa masih wajar lah secara murid high school masa nulisnya pake pensil kayak anak SD. Laah ini malah sampe pulpen hitam dilarang segala.

Akhirnya ya mau gak mau nanya juga,

“Sir, why can’t we use the black pen, what’s the difference between it with the blue one?”

“I just want the blue pen, that’s all.” Titik. Gak pake koma, diktator abis dah jawabannya.

“But what’s the difference? What’s the point?”

“Well..” Akhirnya dia mencoba menjelaskan “It’s just more clearer with blue pen when I check your notes in the night”

Asli, non-sense banget.

“Let me buy you a lamp!” Keceplosan.

“Excuse me?”

Muka garangnya langsung keluar. Saya gelalapan, dan akhirnya ngeles ngakunya ngomong pake bahasa sendiri (bahasa Indonesia) dan apapun yang dia denger tadi cuman salah denger heuheuheu untung aja dia percaya emang dodol tuh guru.

Apaan coba gak mau pulpen hitam gara-gara susah buat ngoreksi di malam hari dan pulpen biru lebih jelas di malam hari!? Gak pernah baca buku malam-malam kayaknya nih orang. Atau emang penulis yang buku-bukunya dia baca juga dia galakin biar mau nerbitin buku pake tinta biru hahaha.

Ah, orang kayak gini mah kenapa lahir di jaman Afrika Selatan udah merdeka sih, mana pake dikirim kesini segala pula. Kenapa gitu gak lahir pas jaman Apartheid pas Afsel masih dijajah. Ugh.

What Under Your Feet

inti-bumi-3

Selain gak jelas abis, nih guru  juga membosankan abis.

Pas banget pula dengan minggu pertama sekolah yang siswa-siswanya masih pada males-malesan, kemarin saat dia lagi ngebacot  cuwat cuwit soal materi inti bumi sampe hampir setengah jam siswa-siswa (tentu aja salah satunya saya) pada ngantuk dan bahkan banyak yang udah tertidur, dia yang sadar kemudian bertanya,

“What is with those expressions!? We’re talking about what under your feet!”

Sambil nguap, dalam hati cuman bisa bilang,

“Well, we got more interested with what between our feet, Sir…”

Catatan Sekolah (1): Curhat Guru dari Amerika

markus.jpg

Saya mempunyai seorang guru dari Amerika, sebut saja dia Mawar.

Oke, sepertinya tidak cocok. Sebut saja dengan nama aslinya Marcus, yah kita panggil sajalah Mr. Marcus. Ya, yang fotonya saya pajang diatas.

Saya memang bersekolah di negara Arab (tepatnya di PEA), tapi karena sekolah saya sekolah internasional gurunya pun tidak hanya berasal dari daerah lokal, tapi juga dari daerah luar seperti Mesir, Sudan, Afrika Selatan, dan bahkan Amerika.

Mr.Marcus sering bercerita tentang kehidupannya di Amerika (dengan sisi negatif), kadang bahkan menjelaskan pelajaran pun dengan membawa-bawa Amerika, entahlah, mungkin beliau frustasi atau bagaimana saya tidak tahu. Yang jelas setiap dia akan curhat kata-kata yang paling sering keluar darinya adalah “In America…” dan kemudian dia akan menghabiskan setengah jam pelajaran menjelaskan tentang Amerika.  Bagi saya sih tidak apa-apa, toh setengah jam waktu yang lumayan untuk dimanfaatkan dengan surfing internet di hp diam-diam dengan wifi dari sekolah, untuk tidur juga lumayan :p.

Tapi makin kelamaan, seiring saya juga makin sering membaca buku saya akhirnya mulai memperhatikan ketika Mr. Marcus curhat  tentang Amerika, ternyata menarik juga saya pikir.  Hari ini saya belajar tentang percentage dengan beliau, kemudian di satu momen beliau bertanya;  “Jika Simmy (nama teman saya) meminjamkan 5.000 dirham dengan janji bunga 1.25%, maka berapa uang yang akan dikembalikan?” sambil Mr. Marcus menuliskannya di papan tulis.

Saya memerhatikan sejenak dan kemudian diam melanjutkan lamunan saya kembali, tak tertarik. Lalu kemudian, beliau menyatakan bahwa jumlah yang harus dikembalikan nantinya berjumlah 11.250 dirham. What the heck? saya pikir. Bahkan dengan bunga 10% jumlah yang dikembalikan hanya berjumlah 5.500 dirham, bagaimana bunga 1.25% bisa mencapai angka sebanyak itu? Kemudian saya mulai memerhatikan kembali, kata dia 1.25% yang dimaksud bukanlah satu koma dua lima persen. Tetapi satu (whole which means 100%) dan dua puluh lima persen yang berarti 100% ditambah 25% yang sama saja dengan 125%! Dia lalu menjelaskan bahwa penulisan 1.25% yang bermaksud satu ditambah 25% itu dibenarkan.

Saya kemudian mengacungkan tangan bertanya, “But… so the way of writing is just to trick everybody?” “Yeah..” jawabnya sambil mengangguk kemudian mengeluarkan kalimat saktinya “In America……”  dan mulai bercerita tentang keadaan di negaranya, membanding-bandingkan keadaan Amerika dengan PEA yang dia gambarkan seperti neraka dan surga, lalu kemudian menjelaskan bahwa di Amerika ilegal untuk berbohong, ilegal untuk melakukan penipuan, tetapi di Amerika tidak ilegal untuk menggobloki orang goblok. Jadi ya seperti kasus tadi, misalnya bank menjanjikan pinjaman dengan bunga 1.25% dengan maksud 1 (whole which means 100%) ditambah 25%, tapi para peminjam yang goblok mengartikannya sebagai benar-benar 1.25%, dan akhirnya mengetahui kebenaran sebenarnya mereka tidak bisa melakukan laporan karena penulisan 1.25% itu sendiri tidak ada salahnya, salah sendiri goblok?

Mungkin agak terlalu ribet sistem ini, saya juga jadi pusing, begini deh contohnya; Si A ingin mempunyai banyak uang, si A lalu mencetak seribu tiket undian yang ia perjualbelikan ke seribu orang dengan harga 1 dollar dengan janji bahwa 1 orang yang beruntung akan mendapatkan 1.000 dollar.

Pada akhirnya muncullah 1 orang pemenang, tapi kemudian si A menjelaskan bahwa dia telah menipunya dan mengembalikan 1 dollar ganti tiket undian tadi kepada si pemenang sebagai ganti rugi. Lalu akhirnya Si A itu mendapatkan 999 dollar dari 999 tiket undian sisanya yang berhasil ia jual. Ada yang salah? Toh si pemenang mendapatkan uangnya kembali, dan 999 orang sisanya tentu tidak perlu pusing dengan undian yang tidak mereka menangkan.

Tapi jika sistem seperti ini terjadi hingga situasi kompleks, apa yang akan terjadi?

“The rich become richer, the poor become poorer” itu kata Mr. Marcus menjelaskan keadaan yang akan terjadi dengan sistem tadi,

yang kaya makin kaya,

yang miskin makin miskin.

Tapi bagi saya masih ada yang kurang;

yang goblok makin goblok!

Al Ain, 28 September 2015, begadang kayak gini jadi pengen mie instan….

Saus Tomat atau Kecap

bagaimana-sih-caranya-membuat-telur-ceplok-sempurna-ini-metodenya

Pakai saus tomat atau pakai kecap?

Pakai kecap atau pakai saus tomat?

Atau pakai dua-duanya?

Ah tapi nanti kalau begitu cepat habisnya dong! Hemat!

Terus yang mana nih!?

“Iih, tinggal dipilih aja kok susah amat!” Tia, biasa kupanggil Tiyak, teman perempuanku sejak SMP yang selalu menemaniku ke banyak tempat itu, mulai dari perpustakaan daerah, Gramedia, hingga kadang kita menonton bersama, kesal melihatku kebingungan dari tadi memilih kecap atau saus untuk telur mata sapi di sarapan pagi ini, di rumah kami yang baru saja jadi—setelah hampir beberapa tahun kami tinggal dirumah mertua.

“Hehehe” Aku cengengesan dengan tetap kebingungan. “Kamu tau kan aku seorang yang peragu? Peragu akan kebenaran, mempertanyakan banyak hal, tidak mudah percaya dengan sesuatu”

“Hhh…” Tia hanya mendesah. Bukan mendesah yang itu. Pikiranmu jangan ngeres, mblo.

Tia pun melanjutkan memakan telur mata sapi yang diberinya kecap (tanpa nasi, karena dia sedang diet) sambil menyuapi Fata, bayi kami yang berumur satu tahun. Keringatku semakin dingin, entahlah, masalah saus tomat dan kecap ini membuatku pusing.

“Sayaang, kamu itu peragu, tapi jangan seperti ini juga dong ihh!” Tia kemudian menegurku lagi.

“Namanya juga peragu!” Kataku dengan sedikit berteriak, sedikit marah, dan sedikit air liur yang muncrat. Tia kaget, kemudian diam dengan sedikit manyun memasang muka ngambek,

“Kamu peragu akan kebenaran, skeptis, tapi setelah bertahun-tahun kita berteman dan bertahun-tahun kita hidup bersama, aku yakin kamu itu tuh sebenarnya bukan peragu yang benar-benar peragu. Yang bahkan ragu untuk menjadi peragu…”

Hening beberapa saat. Aku hanya diam dengan memegang saus tomat di tangan kananku dan kecap di tangan kiriku, sementara Tia melanjutkan makannya.

“AAAA!” Tia tiba-tiba berteriak, aku kaget mendengar teriakannya, rupanya ada kecoa dibawah meja makan. Dengan sigap dan cepat langsung kuambil semprotan obat nyamuk di kamar, lalu kusemprotkan ke kecoa yang ternyata bukan hanya sekedar kecoa, tetapi kecoa terbang….
Dimuat juga di : http://fiksiana.kompasiana.com/fapfapfap/saus-tomat-atau-kecap_569a55d6bd22bde109b60788