Catatan Sekolah (1): Curhat Guru dari Amerika

markus.jpg

Saya mempunyai seorang guru dari Amerika, sebut saja dia Mawar.

Oke, sepertinya tidak cocok. Sebut saja dengan nama aslinya Marcus, yah kita panggil sajalah Mr. Marcus. Ya, yang fotonya saya pajang diatas.

Saya memang bersekolah di negara Arab (tepatnya di PEA), tapi karena sekolah saya sekolah internasional gurunya pun tidak hanya berasal dari daerah lokal, tapi juga dari daerah luar seperti Mesir, Sudan, Afrika Selatan, dan bahkan Amerika.

Mr.Marcus sering bercerita tentang kehidupannya di Amerika (dengan sisi negatif), kadang bahkan menjelaskan pelajaran pun dengan membawa-bawa Amerika, entahlah, mungkin beliau frustasi atau bagaimana saya tidak tahu. Yang jelas setiap dia akan curhat kata-kata yang paling sering keluar darinya adalah “In America…” dan kemudian dia akan menghabiskan setengah jam pelajaran menjelaskan tentang Amerika.  Bagi saya sih tidak apa-apa, toh setengah jam waktu yang lumayan untuk dimanfaatkan dengan surfing internet di hp diam-diam dengan wifi dari sekolah, untuk tidur juga lumayan :p.

Tapi makin kelamaan, seiring saya juga makin sering membaca buku saya akhirnya mulai memperhatikan ketika Mr. Marcus curhat  tentang Amerika, ternyata menarik juga saya pikir.  Hari ini saya belajar tentang percentage dengan beliau, kemudian di satu momen beliau bertanya;  “Jika Simmy (nama teman saya) meminjamkan 5.000 dirham dengan janji bunga 1.25%, maka berapa uang yang akan dikembalikan?” sambil Mr. Marcus menuliskannya di papan tulis.

Saya memerhatikan sejenak dan kemudian diam melanjutkan lamunan saya kembali, tak tertarik. Lalu kemudian, beliau menyatakan bahwa jumlah yang harus dikembalikan nantinya berjumlah 11.250 dirham. What the heck? saya pikir. Bahkan dengan bunga 10% jumlah yang dikembalikan hanya berjumlah 5.500 dirham, bagaimana bunga 1.25% bisa mencapai angka sebanyak itu? Kemudian saya mulai memerhatikan kembali, kata dia 1.25% yang dimaksud bukanlah satu koma dua lima persen. Tetapi satu (whole which means 100%) dan dua puluh lima persen yang berarti 100% ditambah 25% yang sama saja dengan 125%! Dia lalu menjelaskan bahwa penulisan 1.25% yang bermaksud satu ditambah 25% itu dibenarkan.

Saya kemudian mengacungkan tangan bertanya, “But… so the way of writing is just to trick everybody?” “Yeah..” jawabnya sambil mengangguk kemudian mengeluarkan kalimat saktinya “In America……”  dan mulai bercerita tentang keadaan di negaranya, membanding-bandingkan keadaan Amerika dengan PEA yang dia gambarkan seperti neraka dan surga, lalu kemudian menjelaskan bahwa di Amerika ilegal untuk berbohong, ilegal untuk melakukan penipuan, tetapi di Amerika tidak ilegal untuk menggobloki orang goblok. Jadi ya seperti kasus tadi, misalnya bank menjanjikan pinjaman dengan bunga 1.25% dengan maksud 1 (whole which means 100%) ditambah 25%, tapi para peminjam yang goblok mengartikannya sebagai benar-benar 1.25%, dan akhirnya mengetahui kebenaran sebenarnya mereka tidak bisa melakukan laporan karena penulisan 1.25% itu sendiri tidak ada salahnya, salah sendiri goblok?

Mungkin agak terlalu ribet sistem ini, saya juga jadi pusing, begini deh contohnya; Si A ingin mempunyai banyak uang, si A lalu mencetak seribu tiket undian yang ia perjualbelikan ke seribu orang dengan harga 1 dollar dengan janji bahwa 1 orang yang beruntung akan mendapatkan 1.000 dollar.

Pada akhirnya muncullah 1 orang pemenang, tapi kemudian si A menjelaskan bahwa dia telah menipunya dan mengembalikan 1 dollar ganti tiket undian tadi kepada si pemenang sebagai ganti rugi. Lalu akhirnya Si A itu mendapatkan 999 dollar dari 999 tiket undian sisanya yang berhasil ia jual. Ada yang salah? Toh si pemenang mendapatkan uangnya kembali, dan 999 orang sisanya tentu tidak perlu pusing dengan undian yang tidak mereka menangkan.

Tapi jika sistem seperti ini terjadi hingga situasi kompleks, apa yang akan terjadi?

“The rich become richer, the poor become poorer” itu kata Mr. Marcus menjelaskan keadaan yang akan terjadi dengan sistem tadi,

yang kaya makin kaya,

yang miskin makin miskin.

Tapi bagi saya masih ada yang kurang;

yang goblok makin goblok!

Al Ain, 28 September 2015, begadang kayak gini jadi pengen mie instan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s