Kromosom XY dan Adam dan Hawa (Tentang LGBT)

image

Manusia terlahir dengan kromosom, kromosom Y untuk maskulin, kromosom X untuk feminin.

Tau ini pas lagi ngediskusiin sama temen soal LGBT heuheu. Jadi, meskipun wanita terlahir dengan kromosom XX, laki-laki justru terlahir dengan kromosom XY, bukan YY.

Yang berarti, setiap lelaki yang lahir jika ditaruh di lingkungan yang salah (terlalu banyak berteman dengan perempuan, single mother tanpa figur ayah, dll.) mempunyai kecenderungan untuk menjadi gay/humu/maho.

Nah, kemaren abis nanyain Bernard soal ini. Tapi bukan nanyain soal LGBT, melainkan nanyain kenapa perempuan terlahir dengan kromosom XX sedangkan lelaki terlahir dengan kromosom XY bukan YY.

“If you look back into the theory of creation”, Mr. Bernard ngomongin soal teori penciptaan yang juga ada di agamanya (Kristen), “Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, dan mungkin sciencetifically itulah mengapa kaum Adam mempunyai kedua kromosom itu sedangkan kaum Hawa hanya mendapatkan bagian feminin”

“Not so many scientist say this, tapi menurut saya ini masuk akal,” lanjutnya.

Sehabis itu, pikiran gue langsung melayang tentang salah satu cerita di jaman Ali Ra.

Sempat ada kegemparan di Madinah saat itu, dikarenakan ada seorang budak yang sehabis melahirkan tetapi setelah itu justru menghamili orang lain.

Berkelamin ganda, Ali Ra. pun langsung memutuskan untuk memanggil orang itu, lalu berdasarkan Qur’an dan Hadis bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, diputuskan bahwa budak itu adalah laki-laki, karena tulang rusuknya kurang satu dibandingkan tulang rusuk wanita (wanita 23, laki-laki 22, kalau salah koreksi ya)

Apa yang tak maksud dengan dua kisah diatas?

Pertama (untuk Gay/Humu/Maho) ‘dukung kesembuhannya, bukan dukung keberadaannya’, karena dengan kromosom XY, orang yang anak yatim dan hanya dirawat ibunya berpotensi menjadi ‘melambai’, atau orang yang kedua orangtuanya meninggal dan tinggal dengan kakak-kakak perempuannya juga berpontesi menjadi ‘melambai’.

Nah, selama belum sampai tahap (maap) berhubungan badan, apa salahnya dengan ‘mendukung kesembuhannya, bukan mendukung keberadaannya’?

Yang kedua, mungkin ini yang paling penting.

Agama jangan dipisahkan dengan ilmu pengetahuan.

Entahlah, mungkin begitu? 🙂

image

(Sumber gambar: Sridianti.com
Beta.diylol.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s