Si Paitan

Paitan tidak pernah mengaku seorang idealis, tapi aku teman dekatnya tahu dia idealis atau setidaknya berusaha menjadi seorang idealis (dengan apa yang diyakininya, tentunya).

Paitan banyak membaca tentang masa depan dimana air bersih yang kemungkinan besar bakal makin sulit ditemukan.

Paitan kemudian menjadi orang yang jika ada air sisa (air sisa masak mie instan, contohnya), akan membawa air sisa itu kedepan rumahnya untuk menyiramnya ke pot tanaman, karena merasa sayang jika air itu dibuang ke wastafel.

Tetapi Paitan yang hobi bernyanyi, jika ke kamar mandi selalu membawa hp untuk menyetel musik dan menghabiskan waktu minimal setengah jam didalamnya.

Paitan juga pernah membaca tentang produk-produk yang (katanya) mendukung zionisme, entah apa itu zionisme.

Dia pun 3 tahun belakangan ini tidak pernah memakan KFC, McDonald, memboikot minuman-minuman seperti Sprite, Coca Cola, Fanta, bahkan Aqua.

Hal itu kuketahui setelah dia meng-updatenya di status FBnya.

Tulisan ini harusnya berakhir disini, tapi aku memutuskan untuk menunjukkannya ke Paitan terlebih dahulu.

Paitan kemudian mengatakan, kebiasaannya berlama-lama di kamar mandi akan dia kurangi dengan hanya bernyanyi satu lagu (satu lagu kira-kira 5 menit) setelah sebelumnya selalu bernyanyi lima lagu.

Tapi soal FB, dia mengatakan fakta-fakta seperti Mark Zuckerberg membaca Mukaddimah-nya Ibnu Khaldun, Mark Zuckerberg menantang isi Talmud tentang pernikahan dgn non-Yahudi karena non-Yahudi derajatnya lebih rendah dari hewan hingga pernikahannya dengan seorang berketurunan Cina ditentang Yahudi garis keras, juga tentang change.org Mark Zuckerberg yang membawa jaringan internet ke pedalaman-pedalaman dunia.

Yah, itulah Paitan.

Advertisements

Jurnal Mimpi: Perkampungan Asap Kabut

Oke jadi gue baru bangun.

Tadi habis mimpi gue lagi kesebuah perkampungan, perkampungan itu berdiri diatas lautan.

Nah, trus gue tau2 ada disalah satu rumah, gue rupanya lagi ngadain pesta, disana ada Acha Septriasa dan juga Pame.

Terus Acha Septriasa ngajak gue ngeliat dia lagi masak, rupanya dia lagi masak semacam lobster gitu.

Trus Acha ngomong, “Kasian gue sama Pame, untung dia bawa Indomie sendiri”

Terus gue ketawa sambil didalam hati ngerasa gakenak, disini kan niatnya mau pesta makan makanan lautan khas perkampungan ini, eh Pame malah  bawa Indomie sendiri buat masaknya.

Trus, yang gue inget itu tuh perkampungan primitif tempat asli gue tetapi gue juga jarang atau gakpernah kesitu, nah ada salah satu anak kecil keponakan gue yang ngajak gue buat keliling lebih ke pedalaman untuk ngeliat perkampungan ini naik perahu tour (jadi memang ada tour khusus untuk melawat ke perkampungan yang lebih dalam)

Tapi pertama dia minta gue untuk nangkap pasir dibawah laut pake kaleng bekas Indomilk gitu, trus gue nyelam, ngambil pasir lautan dan gue nemu ikan pari banyak banget dan kecil2, trus sekalian nangkap pasir gue nangkap parenya juga.

Kemudian gue jalan bareng anak kecil itu naik perahu, untuk tour ke pedalaman kampung ini.

Pertama gue naik perahu, gue pertama ngeliat banyak banget mesjid  yang super-super gede dengan di belakangnya banyak berdiri bendera Indonesia.

Trus gue liat tuh mesjid sepi-sepi banget, trus Tour Guide (ada Tour Guide di perahu) ngomong ke gue kalo dulunya ada perlombaan Membuat Mesjid Terbaik Dengan Latar Bendera Indonesia, hasil mesjidnya gagah-gagah banget sumpah sampe gue yakin gue gakpernah ngeliat mesjid yang serupa di dunia nyata, tapi rupanya orang-orang perkampungan cuman rame saat berlomba-lomba membuat mesjid, tapi gak beramai-ramai untuk mengunjunginya.

Trus gue dibawa lagi pake perahu kedalam perkampungan itu.

Entah kenapa beberapa kali kita sempat ngadepin kabut,  gue kira ini kabut alami kayak Kirigakure gitu, tapi rupanya tour guidenya bilang itu kabut yang dikeluarkan dari rumah penduduk saat ada suatu bagian perkampungan yang mereka gakingin orang luar kayak gue buat ngeliat (padahal di otak gue gue inget kalo itu tuh perkampungan tempat gue berasal).

Gue pikir ini hal unik juga, kemudian didalam otak gue gue ngomong sendiri, nama yang pas buat perkampungan ini (karena gue gaktau namanya) bukan Perkampungan Diatas Laut, tapi Perkampungan Kabut (Kirigakure mungkin? :p), karena hal uniknya dimana d beberapa bagian kampung yang gue lewatin orang-orang melemparkan kabut (pake alat kayak meriam gitu) karena itu adalah bagian yang mereka gak ingin dilihat sama orang luar.

Antara Soe, Allen, Lennon dan Cinta…

image

Antara Soe Hok Gie, Woody Allen, John Lennon, dan Cinta.

Yang satu seorang demonstran terkenal angkatan ’66, seorang kutu buku yang melahap ribuan buku, kambing gunung yang mendirikan Mapala UI, macan mimbar diskusi yang cerdas.

Yang satu seorang sutradara film, mempunyai banyak film bahkan mempengaruhi salah satu tokoh komedi tenar Indonesia; Raditya Dika.

Yang satu lagi musisi, dikenal dengan kacamata bulatnya dan lagu fenomenalnya; Imagine yang bahkan dikatakan Paul McCartneh sebagai lagu terbaik abad 20.

Soe Hok Gie dibingungkan antara 3 wanita UI yang dekat dengannya (Nessy, Luki, dan Kartini Pandjaitan).

Woody Allen bahkan menceraikan istrinya dan justru menikahi anak perempuan kandungnya.

John Lennon menceraikan istri pertamanya dan menjalankan kisah asmara absurd dengan istri barunya; Yoko Ono. Dia menyebut dirinya dan Yoko Ono bukanlah ‘John dan Ono tapi JohnOno’, bahkan dia pernah meminta wartawan untuk meliput seharian kehidupan mereka (bedakan ya dengan liputannya Raffi Ahmad sama Gigi! :p).

Mereka bertiga sama-sama orang besar, dan mereka bertiga bersama-sama gagal dalam cinta.

Seperti halnya diriku.