(Bukan Review) Cek Toko Sebelah: Lagi, Potretan Ernest Soal Tionghoa di Indonesia

“Kamu sudah memilih dia, kali ini biarkan dia yang memilih”

FYI: Tulisan ini udah diedit karena sebelumnya ditulis dalam keadaan mabok minum teh gelas dan untuk keperluan pos berikutnya.

Sinopsis

Seorang ayah pemilik toko ingin pensiun dari profesinya dan mewariskan toko kepada salah satu dari anaknya, Yohan atau Erwin.

Tapi anehnya, dia justru memberikannya kepada Erwin yang merupakan anak bungsu.

Bukan Review

Sebenarnya gue udah nonton Passengers sebelum ini tapi belum gue review, tapi yowes lah ini dulu sebagai langkah mendukung film tanah air wkwkwk. 

Btw, ini film Indonesia ke-4 yang gue tonton di bioskop bulan ini, alhamdulillah film Indonesia bulan ini bagus-bagus.. (sama kek pas lebaran kemaren ada Sabtu Bersama Bapak, Rudy Habibie, sama Koala Kumal yang gue tonton semua) 

Pengalaman nonton film Cek Toko Sebelah ini memang agak beda sih.

Gue nonton film ini bukan di Big Mall tempat gue biasa nonton tapi di SCP karena waktunya mepet dengan selametan sunatan adek gue abis Maghrib (yey adek gue udah sunat!)

Kebanyakan nonton di Big Mall, pengalaman nonton di SCP ini jadi agak beda wkwkwk.

Layarnya lebih kecil, penonton depan sama belakang lebih mepet jadinya pas adegan lucunya itu orang di belakang gue kek ketawa pas di telinga gue.

Terus.. ruangannya gak begitu kedap suara, begitu ujan, suara ujannya tuh langsung jadi distraction yang ganggu kenikmatan menonton film.

Wkwk gue banyak protes gini jadi inget pas adek gue nyuruh gue mesen pop corn, 

Mbak-mbak 21: “Pesen apa mas?”

Gue: “Pop corn caramel satu, Mbak. Yang Medium”

Mbak-mbak 21: “Gak yang large aja, Mas?”

Gue: “Yang medium”

Mbak-mbak 21 kemudian ngambilin pop corn pesanan gue.

Mbak-mbak 21: “Ini mas, ada pesanan lagi?”

Gue: “Gak Mbak, cukup”

Mbak-mbak 21: “Ice Blend? Nugget?”

Gue: “Cukup,Mbak”

Mbak-mbak 21: *ngeliatin dengan tampang duh-nih-orang-rembes-ngapain-di-bioskop*

FYI, penampilan gue tadi emang awut-awutan karena selain emang abis jalan dan rambut gue lagi lumayan gondrong, emang gue gembel aja…

Oke, kembali soal film ini.

Pertama… musik!

Entah kenapa gue suka banget soundtrack-soundtrack film ini yang diisi GAC sama The Overtunes, apalagi yang Berlari Tanpa Kaki yang di filmnya diputer pas banget dengan adegan Koh Afuk kehilangan tokonya.

Musik emang bagian penting dari film bagi gue, apalagi setelah nonton film-filmnya Woody Allen yang musiknya kuat banget salah satunya intro Midnight in Paris.

Kedua..

Disini, sama seperti Ngenest, Ernest lagi-lagi membawa-bawa isu etnisnya (Tionghoa) dalam film ini. Kita tau kan orang Tionghoa di Indonesia yang kesan bisnisnya kuat banget mulai dari toko obat sampai konter pulsa.

Disini ia berkisah tentang seorang Tionghoa pemilik toko yang bersaing dengan pemilik toko di sebelah.

Di tengah-tengah film, dikisahkan persaingan berawal dari Koh Afuk (nama ayah Ernest di film ini) yang pindah ke sebelah saingannya itu karena tragedi ’98.

Ernest memang bukan seorang ‘penulis cerita’, ia adalah ‘pemotret cerita’, memotret cerita dan menyajikannya dengan sudut pandang terbaik yang dimilikinya; yaitu komedi. 

Btw, ini belum semua yang gue pengen tulis soal film ini, ada beberapa hal lagi yang gue alihin ke pos berikutnya.

So, cekidot (halah kayak ada yang baca aja). 

Rating: …, / …..

(Bukan Review) Hangout: Komedi Misteri yang Agak Tidak Bisa Ditebak 

Bukan kita yang nyari film, film yang nyari kita

Sinopsis:

Raditya Dika bersama 6 artis lainnya diundang ke sebuah pulau dan ternyata tidak disambut siapapun, satu persatu dari mereka mati. Pertanyaannya; siapa pembunuhnya?

Review:

Raditya Dika memang pernah mengaku sebagai salah satu penggemar Agatha Christie, tapi itu tidak membuat film ini semesterius novel-novelnya, malahan film ini lebih menonjol di komedinya walaupun misterinya gak kalah karena gue sampe akhir gak bisa menebak siapa pembunuhnya.

Hal yang lucu adalah, menonton film ini kita seperti melihat kenyataan sebenarnya (karena mereka semua memerankan dirinya sendiri), apalagi adegan ketika Raditya Dika berkumpul bersama keenam artis itu dan mengatakan ingin membuat film tentang mereka yang Hangout bersama-sama ke suatu pulau.

Yang paling bikin gue kaget disini Bayu Skak aktingnya memuaskan banget, gue sempat kecewa dengan Chandra Liow di Single yang menurut gue agak dibuat-buat aktingnya (walaupun sebenarnya gue penggemar youtube Chandra Liow).

“Bukan kita yang nyari film, film yang nyari kita!” Itu salah satu dialog di film ini. 

Itu dialog yang paling gue inget di film ini, karena sebenarnya itu terjadi di kehidupan gue juga.

Raditya Dika adalah orang yang membuat gue mengetahui dan menyukai Woody Allen, walaupun film favorit kita dari film-filmnya sepertinya beda (doi suka Annie Hall, gule kagak)

Ada tiga kesamaan antara Raditya Dika dan Woody Allen:

1. Film-filmnya kebanyakan romance comedy

2.Sama-sama berperan di film mereka dan mempunyai akting yang tidak begitu hebat tetapi akhirnya menjadi persona mereka bukan hanya di mata penonton, tapi juga di mata publik

3. Sama-sama mencoba beralih ke thriller, Woody Allen dengan Cassandra Clare, Raditya Dika dengan Hangout

Untuk yang ketiga ini, banyak kritikan pedas kepada Woody Allen yang dinilai gagal.

Tapi gue rasa tidak untuk Raditya Dika. 

NB: Pandangan gue soal film ini agak berubah, tapi gue males ngedit pos ini jadi bisa dilihat di pos gue yang lain; Ernest Prakasa dan Raditya Dika. 

Rating: … / …..

(Bukan Review) Bulan Terbelah di Amerika 2: LGBT, Aborsi, Revolusi Kebudayaan..

“Tuhanku ada di kepalaku”

“Kalau begitu ini saatnya kamu juga membawanya ke hatimu” 

Sinopsis

Hanum ingin kembali ke Cina, namun ia mendapatkan tawaran untuk mengungkap tentang Laksamana Cheng Ho yang pernah ke Amerika.

Konflik Azima Hussein dengan bundanya di film pertama dilanjutkan di film ini, begitupula romansa antara Stefan dan Jasmine yang ternyata hamil.

Bukan Review

Ada hal yang gue suka dari film-film Hanum Rais, belio mengangkat Eropa dan Amerika (berbeda dengan ISIS yang baru-baru ini bikin game android ngebom Menara Eifell, Ben Tower..) film-filmnya berhasil menghasilkan scene-scene menarik dengan latar tersebut.

Yang gak gue suka; filmnya kadang terlalu fokus kepada preaching, kayak 99 Cahaya di Langit Eropa yang malah kayak lagi jalan-jalan ke Eropa sama tour guide dibanding nonton film. 

Sebenarnya gue gakada minat untuk menonton film ini, apalagi setelah ngeliat trailernya yang ngomongin soal “Apakah Muslim penemu Amerika?” Gue ngerasa jangan-jangan ini film mau bawa teori konspirasi lagi kek di 99 Cahaya di Langit Eropa yang menyatakan teori konspirasi soal muslimnya Napoleon.

Tapi akhirnya gue nonton karena diajakin keluarga.

Don’t preach me!” Dialog itu diucapkan beberapa kali di film ini, dan gue rasa itu cukup menggambarkan film ini karena gue gak begitu ngerasa diceramahin.

Film ini membawa topik LGBT, Revolusi Kebudayaan Mao Zedong, Aborsi di Amerika tanpa banyak menggurui, bahkan meskipun membawa topik LGBT film ini seperti menyatakan sifat netral terhadap isu yang membawa banyak debat tersebut dan malah menjadikannya sebagai lelucon. 

Well, ini film religi bagus yang lagi-lagi dihadirkan di dunia film Indonesia, walaupun tentu saja masih tidak bisa mengalahkan Sang Pencerah dan Ayat-Ayat Cinta..

Rating: … / …..

(Bukan Review) Headshot: 1/2 Killers + The Raid 

“Mungkin aku orang jahat”

“Kamu bukan orang jahat”

“Justru karena itu aku harus tau siapa diriku sebenarnya”

AH SIAL YOUR NAME UDAH GAK MUTER DI BLITZ  BALIKPAPAN PADAHAL SENGAJA GAK NONTON BAJAKANNYA.

Oke sori curhat.

Sinopsis

Bercerita tentang seorang pasien rumah sakit (Iko Uwais) yang ditemukan terdampar di pesisir pantai sebuah pulau, yang hilang ingatan dan kemudian diberi nama Ishmael berdasarkan nama tokoh dalam novel Moby Dick, Ishmael berjuang mendapatkan ingatannya kembali.

Bukan Review

Gue penggemar berat Mo Brothers (walaupun ini film pertamanya yang gue tonton di bioskop). Mereka adalah tandem bersaudara yang gue suka setelah Nolan Brothers.

Film mereka bedua yang paling terkenal itu Rumah Dara, tapi sebenarnya taon 2014 mereka bedua ngeluncurin pilem Killers yang menurut gue asli keren tapi sialnya munculnya bareng The Raid 2. Makanya banyak orang Indonesia yang gak pay attention.

Killers film ceritanya keren tapi sayangnya kurang koreografinya, dan The Raid 2 menang koreografi tapi menurut gue kurang dari segi cerita.

Dan.. Headshot menurut gue adalah perpaduan antara cerita dan koreografi, and I’m proud karena selama ini ngeliat The Raid disutradarain Gareth Evans tuh kek ngerasa “Duh kita merdeka harus diajarin Edward Dekker masa nyebarin silat ke dunia harus pake Gareth Evans juga” (tentu aja gak mengurangi hormat gue ke Gareth Evans atas usahanya).

Tapi gue agak kecewa sih, dengan music composernya, karena di Killers dan The Raid 2 make musik klasik yang bikin baper abis nontonnya (bahkan gue denger Sarabande itu justru pertama kali dari The Raid 2), tapi di Headshot musiknya gak ada make musik klasik.

Dan sebenarnya cerita di Killers lebih keren dan gak bisa ditebak dibandingkan Headshot yang orang kalo ngeliat trailer sama sinopsisnya mungkin udah bisa nebak akhirnya gimana (walaupun detil-detil dari cerita itu yang bikin gue tetep kagum sama ceritanya terutama adegan botol aqua) 

Beruntung bagi gue udah baca Mobydick sebelum nonton ini, gue jadi tau kenapa Iko Uwais dinamakan Ishmael, dan kenapa Chelsea Islan bilang “Cocok”di awal film.. I had this feeling when I watched Match Point and there was a scene the main actor read Dostoevky biography.

Such a good movie! 

Rating: … / ….. 

Tiga Mimpi

Gambar dari album terbarunya Banda Neira.

Pernah pas lagi iseng-iseng baca di Wiki, rupanya Yesterdaynya The Beatles itu chordnya dapet dari mimpi.

Jadi si Paul McCartney suatu malam mimpiin nada yang enak bangun, terus pas bangun langsung dia mainin di piano dan dicatat nadanya biar gak lupa. Dia keliling menyenandungkan nadanya dan bertanya apakah orang-orang pernah mendengarnya (siapatau dia pernah mendengarnya di suatu tempat dan mengulangnya di mimpinya) dan ternyata semua berkata tidak.

Dan jadilah lagu Yesterday yang legendaris itu…

Terus gue akhir-akhir ini ada mimpi yang.. yah gak sehebat mimpi Paul McCartney sih, tapi menarik banget. Kayaknya ada lebih dari tiga mimpi sih, tapi okelah gue ceritain yang gue inget aja.

Catatan: Karena ini mimpi, gak ada awal gak ada akhir.

1. Desa Asap

Gue tiba-tiba dibawa oleh seorang tour guide, dari sebuah pulau naik perahu ke sebuah desa yang rumahnya itu berada diatas laut (semacam Pasar Terapung gitu, tapi ini rumah penduduk)

Tiba-tiba pas gue mulai ke tengah desa, banyak asap, pas gue perhatiin, ternyata di masing-masing rumah ada meriam yang ngeluarin asap.

“Ini supaya gak ada orang asing yang senang melihat pemandangan desa ini kemudian menjajah desa ini”, kata tour guide gue 

Saat itu gue teringat tambang Freeport di Papua, mungkin itu maksudnya ya..

Kemudian asap perlahan hilang, dan gue ngeliat mesjid-mesjid yang berjejeran dengan bendera Indonesia di depannya. Penampilannya kusam tapi masih terlihat bekas-bekas kemegahannya.

“Dulunya ada lomba membuat mesjid termegah, lalu setelah lomba berakhir mesjid ini ditelantarkan”, kata tour guide gue lagi.

2. Penjelajah Waktu

Gue berbuat sesuatu di masa lalu (entah apa itu) yang gue sangaat sesalin. Akhirnya gue balik ke masa lalu buat ngebaikin itu.

Ternyata pas gue balik lagi ke masa sekarang, hal yang terjadi justru gak seperti yang gue harapkan. Ibaratnya kayak gue berharap dengan gue masa lalu, masa sekarang gue bakal jadi begini, ternyata malah jadi begitu.

Akhirnya gue bolak-balik ke masa sekarang dan masa lalu dan justru membuat semuanya semakin rumit.

Terus gue ngeliat diri gue sendiri meringkuk sambil mendesah, 

“Aku cuman bisa mengubah masa lalu, tapi tidak bisa mengubah masa depan”

Untuk yang satu ini, gue sampe membuat puisi (yang lebih mirip kerangka cerita)

Membunuh Hitler

Seorang penjelajah waktu, membunuh Hitler di masa lalu.

Saat kembali ke masanya, ternyata Nazi tetap ada.

Bukan Adolf Hitler, tapi Adolf Idler.

Bukan kumis kotak, tapi kepala botak..

3. Mati

Mati. Gue mimpi diri gue mati. Ini yang paling membekas dibanding yang lain, menurut gue.

Tapi lucunya, gue mati kayak berkedip mata doang, dan pas bangun dari kematian gue ketawa dan ngomong dalam hati,

“Ternyata gini doang rasanya mati, biasa aja tuh!”

Untuk sementara, gue kehilangan rasa takut gue akan kematian (karena gue emang sudah mati).

Terus gue bangun, menyadari bahwa itu mimpi.

Dan rasa takut akan kematian itu datang kembali…