Dream’s Note: Raditya Dika Khotbah Jum’at

(Sebenarnya udah pernah nulis ini beberapa kali di blog ini, tapi akhir-akhir ini dapat mimpi yang lumayan unik jadi gue mulai nulis mimpi lagi, dan bedanya sekarang gue juga nulis analis mimpi gue secara abal-abal)

20-2-2017 (lupa tahun pas nulis ini di note) 


Gue sedang berada di sekolah, ngumpul sama teman-teman alumni di SMP gue.

Gue ngobrol sama seorang teman yang muncul di beberapa mimpi gue sebelumnya,

“Eh, gue mimpiin lu dua atau tiga kali loh beberapa hari ini”

(Dan gue gak nyadar kalo ternyata itu juga mimpi, haha)

Kemudian waktu sholat Jum’at tiba, gue kemudian sholat Jum’at di mesjid SMP gue.

Saat masuk, gue kaget karena yang jadi Raditya Dika, memakai peci hitam, sedang menyampaikan khotbah Jum’at.

Kemudian ternyata Raditya Dika dalam mimpi gue adalah kader PKS, sekaligus pendukung Anies-Sandi di pilgub DKI.

***

Analisis:

Adegan khotbah Jum’at di mesjid SMP gue adalah untuk menyimpan ingatan tentang gue yang saat di Indonesia mengisi khotbah Jum’at di sekolah gue dua kali.

Dan kenapa Raditya Dika? 

Mungkin karena gue yang akhir-akhir ini sedang mikir soal Raditya Dika yang memilih netral dan gak ikut-ikutan kisruh politik DKI Jakarta.

Sementara para artis yang dulu diam aja ngeramein konser Gue Dua yang ngedukung Ahok, mulai dari Iwa K, Krisdayanti, walaupun tentu aja pasti ada artis-artis yang dari awal sudah concern soal politik seperti Tompi. 

Dan Pandji yang dari dulu concern soal politik, banyak bersikap dalam sosial politik seperti kasus Munir, dan mendukung Faisal Basri sebagai calon independen di Pilgub DKI sebelumnya, justru dihina-hina dan dituduh-tuduh haus jabatan.

Advertisements

(Bukan Review) Buku: Bumerang 

Judul Buku: Bumerang

Penulis: Arini Rachmatika

Penerbit: Nekad Publishing 

Gue antara berharap banyak dan bersiap kecewa untuk buku yang ditulis oleh temannya Gabriel ini. Walaupun tulisan-tulisannya sudah sering gue baca di blognya (tikuskeles.blogspot.co.id), tapi gue juga bersiap untuk kemungkinan kesalahan disana-sini karena setau gue ini novel pertamanya.

Tapi ternyata setelah gue baca, gakada tuh pikiran “ah wajarlah masih pemula” dsb. I really enjoyed it. 

Gue sudah banyak membaca buku-buku yang ditulis teman gue sendiri, beberapa ada yang gue beli sekedar untuk solidaritas, beberapa ada yang gue beli karena emang gue yakin bukunya bagus. Udah dua kali gue melakukan hal yang kedua, alhamdulillah masih beruntung. 

Oke, kembali ke buku Bumerang ini.

Gue membaca buku ini setelah membaca Tentang Kamu-nya Tere Liye, yang ternyata dua-duanya sama-sama memakai alur cerita flashback.

Tapi berbeda dengan bukunya Tere Liye memiliki tokoh yang luar biasa dengan cerita hidup yang luar biasa, di novel Bumerang kita akan mendapatkan tokoh biasa dengan cerita hidup  yang biasa–atau bisa dibilang sial, bahkan.

Kisahnya dimulai dengan kehidupan Ra yang sudah dewasa, dengan latar yang suram–kehidupan yang seolah anti-sosial, kehidupan yang berjalan dengan makan-tidur-kerja-makan-tidur-kerja..

Didukung dengan lagu Guts Over Fearnya Eminem yang gue dengar sambil baca buku ini.

Lalu flashback yang dimulai dengan cara yang unik dan agak sedikit surealis–Ra tanpa sadar mengucap ‘kampung halaman’ saat memesan tiket, dan itulah yang tertera di tiketnya.

Flashback kemudian dimulai.
Ra Kecil yang menghabiskan kenakalan masa kecil bersama Am.

Ra Remaja yang menikmati masa muda bersama Dam dan Kal.

Ra Dewasa dengan cinta, juga cerita kenapa ia bisa menjadi sesuram di awal cerita. 

Sebenarnya gue sempat mikir apa yang bikin gue seneng sama buku ini, padahal ceritanya biasa-biasa aja. 

Penokohan yang kuat, keknya setelah gue pikir-pikir. Setiap tokoh dalam ini bagi gue memiliki karakter yang kuat dan bukan menuh-menuhin adegan doang. Dari Kal, sampai ke guru-gurunya Ra saat remaja menurut gue yang memiliki karakter paling kuat.

Tapi selain penokohan yang kuat, kayaknya emang cerita yang biasa itu kadang justru jadi daya tarik tersendiri, karena relatable sama kehidupan kita.

Well…

Oiya, buku ini membuat gue kembali memberi harapan ke gue bahwa masih banyak penulis-penulis cewek yang bagus, yang gak menulis dengan gaya super-sentimentil yang menggelikan.