Realisme Sosial Lenny Abrahamson

Frank, salah satu karya Lenny Abrahamson 

Bung Karno meminta, bahkan menangisi, agar tidak dimasukkan hak-hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar Indonesia.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Kita rancangkan Undang-Undang Dasar dengan kedaulatan rakyat, bukan individu!

Tan Malaka mengatakan, bahwa untuk kemerdekaan umum, orang-orang harus merelakan kemerdekaan dirinya sendiri. 

Gue langsung teringat novel 1984 karya George Orwell, tentang orang-orang yang hidupnya diawasi pemerintah, mulai dari tidur, makan, berak… 

Gak heran. Karena 1984 sendiri ramalan George Orwell tentang bagaimana jika ideologi komunis menjadi ideologi negara-negara di dunia. 

Dan Soekarno, Tan Malaka, adalah dua orang yang kita hormati karena turut berjasa dalam mendirikan apa yang kita sebut Indonesia, juga dua orang yang ideologinya komunis, atau cenderung ke komunis. 

Di jaman Soekarno, bermacam-macam lembaga yang berakar ke PKI yang masuk ke tatanan masyarakat, salah satunya Lekra (Lembaga Kedaulatan Rakyat) yang mengusung realisme sosial sebagai aliran seni para pelukis, penulis, penyanyi dan seniman dari berbagai bidangnya.

Tapi jika Lenny Abrahamson adalah orang Indonesia, dan membuat film di jaman kita masih mempunyai Lekra, mungkin Lekra justru akan membabat habis-habisan sutradara film asal Irlandia ini–sebagaimana mereka membabat para seniman yang berbeda aliran dengan mereka di jamannya.

Realisme sosial, pada pengertiannya adalah aliran seni tentang realita yang ada diantara masyarakat. Lekra mengartikannya dengan sempit, dengan gambaran bahwa masalah di dunia ini seolah-olah hanya soal kemiskinan atau semua masalah di dunia ini berakar dari kemiskinan, Lenny Abrahamson menggambarkannya dengan cara yang berbeda.

Tonton film-filmnya, Lenny Abrahamson justru memperlihatkan bahwa seorang individu selalu mempunyai kesunyiannya sendiri, terlepas dari kaya atau miskin orang tersebut. 

Di Garage, dia memperlihatkan seorang penjaga pom bensin yang mempunyai kesulitan dalam memahami norma-norma orang sekitarnya. Di Frank, dia memperlihatkan seorang musisi yang  sangat tidak percaya diri sehingga harus selalu memakai kepala buatan sebagai topengnya. Juga film-film lainnya seperti Room, dan What Richard Did. 

Lenny Abrahamson dan pemahamannya soal realisme sosial. Lekra dan pehamannya soal realisme sosial. Bung Karno. Tan Malaka. 

Semua itu seolah memperlihatkan ke gue bahwa walaupun masyarakat tanpa kelas terwujud (sebagaimana impian para komunis), masih akan ada banyak masalah di dunia ini; seorang introvert yang depresi karena terus menerus dibully, atau seorang yang bunuh diri karena putus asa akan cintanya. 

Advertisements

Film Lion dan Adopsi Anak

Ada satu scene yang masih membekas buat gue dari film Lion, yaitu scene dimana Sue Brierley, mengaku kepada Saroo, anak angkatnya bahwa ia mengadopsinya bukan karena tidak  bisa mempunyai anak; tetapi karena merasa bumi sudah terlalu penuh dan lebih banyak diisi orang-orang yang  kurang beruntung. 

Di negara seperti Jepang dan Jerman, pemerintahannya kelayapan karena penduduknya tergolong terlalu malas untuk meneruskan keturunan. Di China, pemerintahannya justru kelayapan karena penduduknya udah banyak banget (bahkan ada berita soal ibu hamil yang dipaksa aborsi sama pemerintah China, bisa dibaca disini)

Poin dari apa yang saya omongin soal negara-negara itu? Entahlah hehe.

Ada hadis dari Rasulullah tentang beliau yang ingin melihat banyaknya keturunan Muslim di hari kiamat, dimana hadis ini menjadi salah satu alasan orang-orang yang mengaku ‘paham agama’ menentang KB; bahkan ada yang menuduhnya sebagai konspirasi Yahudi lah…

Tapi apa itu artinya Rasulullah ingin kita memperbanyak jumlah reproduksi kita? Kawin tanpa kenal lelah dengan niat berjihad?  

Sekarang, dari apa yang gue liat, banyak orang Islam bersikap ofensif, kafirin sana kafirin sini bahkan dengan saudara seiman sendiri. Padahal kalau emang yakin mereka ‘kafir’, kenapa gak diajak dapat hidayah dengan halus? Bukankah itu juga makna ‘memperbanyak keturunan Muslim di hari kiamat kelak’?

Gak adakah orang-orang seperti Hasan Al Banna yang bersikap bijaksana ketika Sayyid Quthb (sebelum mendapatkan hidayah) banyak menulis kebenciannya terhadap agama dalam tulisannya dalam koran-koran di Mesir?

Atau ya, mungkin seperti Sue Brierley dalam film Lion (sebenarnya gue gak perlu menyebutkan film Lion, karena ini kisah nyata), bukankah mengadopsi anak yang kurang beruntung juga bagian dari ‘memperbanyak keturunan Muslim di hari kiamat kelak’?

Lalu kemudian ada yang mengatakan gue sembarangan tafsirin hadits, mengatakan gue gak punya kapasitas apa-apa untuk nafisirin hadits itu.

Entahlah, yang gue ingat adalah; ketika Rasulullah diperbolehkan menikah dengan lebih dari 4 wanita, beliau justru memilih menikah dengan janda-janda tua korban perang, dan Aisyah ra adalah satu-satunya istri yang beliau nikahi dalam keadaan perawan.

NB: Mohon koreksi kalau ada fakta-fakta yang salah dalam tulisan ini 🙂 

Dream’s Note: Buku Merah Terlarang

21-2-2017 (lupa tahun pas nulis di note) 

Di perpustakaan sekolah gue, ada buku-buku terlarang berwarna merah, dimana buku-buku itu hanya boleh dibaca para guru dengan titel Syekh di sekolah gue. 

Teman gue, Saad diem-diem minjem buku itu dan memasukkan buku itu ke tas gue karena bingung bagaimana mengembalikannya.

Gue kemudian ketahuan sama penjaga perpustakaan membawa buku merah itu, dan kemudian diinterogasi habis-habisan di perpustakaan.

***

Analisis:

Uni Emirat Arab sebenarnya bisa dibilang Arab ‘modern’, kalau ke pantai Dubai aja bakal ngeliat tuh cewek-cewek pakai bikini.

Tapi freedom of speech disini masih kurang, khotib Jum’at satu negara aja khotbah dengan teks yang sama yang kalau diubah satu huruf aja bisa dipenjara.

Selain itu, gue sering dinasehatin teman-teman yang menganggap diri mereka ‘religius’ dan ‘agamis’ bahwa kita sebagai orang awam ngikut apa kata Syekh kita aja, biarin mereka yang mikir.

Mungkin dua hal itu yang membuat gue bermimpi soal buku merah terlarang ini.