Changes

 “That’s just the way it is, things will never be the same” – Tupac Shakur

Bumi berputar, dunia berubah. Dalam lagu Changes, Tupac berkata bagaimana Amerika tidak siap mempunyai presiden hitam, hanya kurang lebih sepuluh tahun kemudian Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Tapi gue sekarang gak pengen ngomong berat, dan lebih pengen berbicara tentang perubahan-perubahan kecil yang terjadi terhadap kita dan sekitar kita.

Setiap tahun, kita adalah individu yang berbeda, kata Steven Spielberg. Dan itu menurut gue benar sekali.

Gue gaktau apakah itu namanya proses pendewasaan. Tapi kadang kita berubah yaa berubah aja. Bukan karena menjadi lebih dewasa; kadang malah menjadi lebih konyol, kadang malah tidak begitu mempengaruhi kedewasaan ataupun ketidakdewasaan.

Gue bahkan kadang merasa diri gue yang dulu berbeda banget dengan diri gue yang sekarang, seolah-olah dua jiwa yang berbeda yang berganti  shift dalam mengisi raga gue.

Gue dulu fans Madridista yang fanatik abis yang bisa bangun tengah malam tanpa alarm cuman untuk nonton pertandingan Madrid.

Dan kalau dipikir ajaib juga, karena gue cuman butuh tau jam berapa pertandingan itu bakal main, ngomong ke diri sendiri “woi bangun jam 3 ya lu”, dan tara pas jam 3.00 gue terbangun dari tidur.

Bahkan gue pernah salah ngeliat jadwal (kecepatan sehari) dan tetap bisa bangun tepat jam 4.00.

Sekarang? Bahkan pas nonton El Clasico gue ngantuk, sampai sempat mikir “gila gue dulu sampe pertandingan dengan klub kecil yang anti-klimaks aja nonton mulu”.

Atau tentang cinta.

Dulu gue pernah suka sama seseorang pas SMP, dan sempat berdoa, “Ya Allah saya gak butuh yang lebih baik dari dia, saya hanya butuh dia Ya Allah”.

Dan sekarang gue bingung kenapa gue pernah berdoa kayak gitu, bahkan setelah gue pikir-pikir ‘dia’ itu bukan tipe gue banget. 

Itulah yang membuat gue agak skeptis dengan anggapan ‘cinta yang abadi’, gue kadang mikir bahwa seseorang mempertahankan pernikahannya bertahun-tahun bukan karena cinta, tapi karena anak, atau gakmau repot ngurusin perceraian.

Atau kalau ingin sedikit optimis, mungkin orang itu telah menemukan orang yang bisa dicintai untuk sekarang, untuk tahun depan, dan seterusnya.

Simpelnya begini; Misalnya gue menikahi Ra karena kesamaan hobi kita membaca buku, lima tahun kemudian rasa cinta karena hobi membaca itu hilang, tapi justru berganti karena kali ini gue mencintai Ra karena kami sama-sama menyukai berkeliling dunia, dan sepuluh tahun kemudian rasa cinta gue hilang dan berganti dengan gue mencintainya karena hal lain.

Ini mengingatkan gue dengan salah satu adegan Cinta Dalam Kardus, filmnya Raditya Dika dimana dia memberikan pot tanah dengan bibit bunga (bukannya bunga mawar yang udah jadi) kepada gebetannya dan berkata, “Mari kita sama-sama menumbuhkan bunga ini”.

Mungkin ini hanya tentang bagaimana kita mengubah perspektif kita terhadap orang yang kita cintai, tapi gue rasa ini juga tentang menemukan orang yang bisa kita cintai terus menerus, menemukan orang yang ketika kita bosan dan jenuh dengannya, ternyata kita bisa mencintainya untuk alasan lain.

But will I find that kind of person?