Tembok kantor Visinema Pictures. 

Gue baru aja nonton Filosofi Kopi 2, dan gue senang bagaimana di film ini kematian ibu Ben karena sengketa perusahaan kelapa sawit dan ayahnya yang petani kopi diceritakan lebih eksplisit. 

Bukan hanya itu saja, selain tiket bioskop Filosofi Kopi 2 bisa ditukarkan segelas kopi di kedai Filosofi Kopi yang terdapat di Jakarta dan Jogja, membeli satu tiket Filosofi Kopi 2 berarti memberi satu benih kopi untuk petani di lereng Merapi. 

Satu hal yang gue liat dari hal-hal itu: idealisme Angga Dwimas Sasongko sebagai seorang sinematografer. Terlepas dari bagaimana abstraknya apa yang disebut idealisme itu sendiri. 

Kadang kita kesal ngeliat kualitas sinema di Indonesia yang kok kayak gak tertolong banget, sampai kadang gue bertanya, “Apa iya kualitas para sinematografer Indonesia seburuk itu?”

Jawabannya? 

Ternyata, enggak juga.

Kita ambil contoh deh, sinetron yang selalu jadi bahan ejekan di fenspej-fenspej meme wibu yang suka ngebandingin sinetron sama anime. 

Gue pernah baca di Vice yang bikin wawancara dengan salah satu tim kreatif Anak Jalanan, bahwa “kita tuh enggak kekurangan penulis cerita bagus, sebenarnya”. 

Hanya saja tuntutan pemilik modal lah yang bikin kualitas cerita sinetron hancur. 

Penulis skenario sinetron yang diwawancarai Vice juga berkata, bahwa dia pernah membuat skenario yang justru ditolak mentah-mentah karena “too intellegent”.

Angga Dwimas Sasongko, menyadari hal ini, makanya dia mendirikan Production House sendiri yang bernama Visinema Pictures atau bisa dibilang Production House yang menghadirkan sinema dengan visi.

Lihat aja deh film-film Visinema Pictures sejauh ini;

Cahaya dari Timur yang mengangkat soal sentralisasi Jawa, Surat dari Praha yang mengangkat soal mahasiswa buangan jaman Orde Baru, Filosofi Kopi yang mengangkat soal petani kopi… 

(Untuk Bukaan 8, gue belum nonton jadi gaktau tuh film ngangkat soal apa hueheheh)

Dan meskipun menampilkan idealisme dalam sinematografinya, Angga tidak melupakan sisi komersil dalam film ini sehinnga film ini tidak hanya idealis, tapi juga bisa dinikmati banyak orang. 

Mungkin, seperti kutipan Tan Malaka yang dipajang di tembok kantor Visinema Pictures, Angga sadar bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”.

Dan meskipun sudah beristri dan mempunyai satu anak, Angga tidak mau kehilangan kemewahan itu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s