“Jangan pernah melupakan sejarah”, katanya. Tapi, sejarah yang mana?

Akhir-akhir ini pemutaran film Pemberontakan G30S/PKI dimulai lagi, seolah-olah sejarah Indonesia tidak lebih dari sejarah pemberontakan tersebut.

Berikut ini gue rekomendasikan film-film sejarah yang mungkin tidak akan diputar serentak di channel TV Nasional ataupun dijadikan bahan nonton bareng sekelurahan, tapi sangat layak, bahkan mungkin lebih layak ditonton daripada G30S/PKI.

 

  1. Surat Dari Praha

5c3b3162a45000fab88e72022562bd66praha

“Waktu mengubah banyak hal; kekuasaan berubah, politik berubah, ilmu pengetahuan berubah.. hanya musik dan cinta yang tidak berubah”

“Musik mungkin.. tapi cinta?”

 

Surat Dari Praha merupakan karya sutradara Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Bukaan 8), bercerita tentang Larasati (Julie Estelle), yang diwasiatkan oleh ibunya (Sulastri) untuk mengirimkan sebuah kotak dan sebuah surat kepada Jaya (Tio Pakusadewo).

Film ini bercerita tentang derita Jaya, yang harus meninggalkan Indonesia dan Sulastri, kekasihnya yang akhirnya menikah dengan pria lain dan melahirkan Larasati. Jaya dituduh komunis karena mendukung Soekarno, walaupun faktanya, ia bukanlah seorang komunis, tapi seorang nasionalis.

Film ini  bergenre drama romantis dan menampilkan frame demi frame bagaikan lukisan yang sangat memanjakan mata. Film ini juga menampilkan permainan harmonika yang apik dari Tio Pakusadewo.

 

  1. Istirahatlah Kata-Kata

148306729871376_300x430

“Merdeka itu nasi, dimakan jadi tai!”

 

Film ini merupakan karya Yosep Anggi Noen, bercerita tentang perjuangan Wiji Thukul (Gunawan Maryanto), aktivis Partai Rakyat Demokratik yang harus meninggalkan anak dan istrinya, Sipon (Marissa Anita) untuk menghindari kejaran militer Orde Baru yang menjadikan PRD sebagai partai terlarang dan mengejar aktivis-aktivisnya.

Dalam perjalanannya, Wiji Thukul berkali-kali berpindah tempat dan berganti identitas, salah satunya mengganti identitasnya dari Wiji Thukul menjadi Paulus, seorang pendeta gereja.

Seperti kita ketahui, Wiji Thukul menjadi salah satu aktivis yang masih hilang sampai sekarang tanpa diketahui keberadaannya.

Presiden Jokowi berjanji dalam Nawacitanya sebelum terpilih menjadi presiden akan mencari keberadaan Wiji Thukul, namun saat keluarga Wiji Thukul mengundangnya untuk menonton film ini, beliau tidak hadir.

 

 

  1. Sang Pencerah

film23641b

“Kadang orang terpeleset bukan karena dia bodoh,tapi karena dikuasai akalnya saja”

 

Film yang disutradarai Hanung Bramantyo (Hijab, Surga yang Tak Dirindukan 2), seorang sutradara yang sering dituduh liberal tapi banyak menghadirkan film-film religi ini bercerita tentang kehidupan K.H. Ahmad Dahlan (Lukman Sardi), yang sekembali dari belajar di Mekkah mendirikan Muhammadiyah.

Film ini sebenarnya cukup ironis, karena Lukman Sardi yang memerankan K.H. Ahmad Dahlan kini menjadi seorang penganut agama Kristen.

***

Why do we learn history? 

To fix stories for the guilty?

Make angels look filthy and the devils look milky?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s