Pengalaman Hampir Dihomoin Pakistani

image

Well, pengalaman suram ini keingat kembali setelah baca The Journey-nya om Gola Gong (bapak’e Gabriel teman sebangku)

Gola Gong, penulis Balada Si Roy itu bercerita bahwa pernah dirinya saat sedang backpacking ke Pakistan hampir dihomoin saat sedang dijamu minum teh.

Gue pun teringat punya pengalaman yang sama saat berada di UAE. For your information,  di negara ini hanya 1 dari 5 orang yang merupakan penduduk asli, sisanya kebanyakan India, Pakistan, Bangladesh dan Philipina.

Jadi, begini ceritanya.

Dulu, dua tahun pertama gue sekolah disini belum ada yang namanya wifi kenceng di asrama (sekarang udah pindah ke asrama baru yang wifinya kenceng abes), jadinya kami para fakir internet biasanya memakai internet dari rumah Pak Latif di belakang rumahnya (maaf banget dan terima kasih banyak ya pak, membantu banget untuk tugas plus komunikasi dengan keluarga)

Kadang Pak Latif mengajak masuk kerumahnya, tapi banyak waktu juga kami lebih sering berada di belakang rumahnya karena selain kami sering datangnya bergerombol (hampir satu persatuan pelajar Indonesia divisi Al Ain wakakak), kadang kami juga internetan gak kenal waktu heuheu.

Nah, di belakang rumah itu ada supir truk Pakistani yang biasanya hampir tiap beberapa hari ada disitu untuk mengisi tandon air salah satu warga yang rumahnya berdekatan.

Orangnya mukanya rada tua, badannya gede dan bajunya lusuh. Kayaknya sih umurnya empat puluhan gitulah entahlah.

image

Seperti inilah penampakan supir itu, karena emang gak sempet dan ogah moto (credit: Flickr.com)

Gue yang kadang wifian sendiri sering diajak ngobrol sama dia, ya gue ladenin aja, ditanyain namanya siapa rumahnya dimana ngapain kesini bla bla bla.

Dan orang ini aja gue rasa baik, kayak pas dia ngasih duit 50 dirham.

“Anta turid fulus?” (“Kamu mau duit gak?” Katanya sambil nyodorin duit 50 dirham)

Gue yang gak mau melewatkan kesempatan dan emang gak tau malu cuman ngangguk ngangguk meringis sambil menyodorkan tangan kosong. Lumayan buat beli pulsa, batin gue.

Pertama gue pikir itu karena dia kasian tau ada anak kecil kayak gue merantau kesini tanpa orangtua (dia tau dari obrolan-obrolan kita sebelumnya), jadinya ya nerima-nerima aja wes huakakak.

Kemudian datang lagi suatu hari, ketika dia nawarin gue buat masuk ke mobilnya.

“Taal sayyarah mal ana” (Sini yok masuk mobil gue)

Gue waktu itu sih positive thinking aja, kirain dia mau nunjukin hadiah gitu buat gue. Yah matre thinking sih ini namanya bukan positive thinking.

Pas udah masuk, gue ngeliat isi mobil gakada apa-apa dan dia juga masuk terus nutup pintu.

“Anta sodiq mal ana soh?” (Kamu temanku kan?)

Gue cuman bengong sambil nyipitin alis ditanya kek gitu.

“Anta sodiq mal ana soh?” Tanyanya lagi, kali ini dengan muka om-om mesum.

Gue mulai curiga, tapi begonya tetep ngebales. “Iya, lu teman gue, tak peduli perbedaan jarak umur yang menghalangi kita, kita adalah teman. Best pren proper en ever”

Oke tentu aja gue balas gak sealay dan segaring itu.

Dia senyum-senyum malu sambil napasnya naik turun dan gue cuman nahan liur, trus dia ngomong lagi,

“Idza anta sodiq mal ana, sowi kiss asyan ana”  (kalo lu temen gue, cipok dong)

Dia bilang gitu sambil nyodorin pipinya minta dicipok.

Tamat. Tamat gue.

Dan sebelum badannya yang gede plus bau ketek itu merkosa gue, gue langsung ngedobrak pintu mobil keluar, ngambil laptop gue dan kabur ke asrama.

Pesan moral: Yang penting dapat duit.

Kromosom XY dan Adam dan Hawa (Tentang LGBT)

image

Manusia terlahir dengan kromosom, kromosom Y untuk maskulin, kromosom X untuk feminin.

Tau ini pas lagi ngediskusiin sama temen soal LGBT heuheu. Jadi, meskipun wanita terlahir dengan kromosom XX, laki-laki justru terlahir dengan kromosom XY, bukan YY.

Yang berarti, setiap lelaki yang lahir jika ditaruh di lingkungan yang salah (terlalu banyak berteman dengan perempuan, single mother tanpa figur ayah, dll.) mempunyai kecenderungan untuk menjadi gay/humu/maho.

Nah, kemaren abis nanyain Bernard soal ini. Tapi bukan nanyain soal LGBT, melainkan nanyain kenapa perempuan terlahir dengan kromosom XX sedangkan lelaki terlahir dengan kromosom XY bukan YY.

“If you look back into the theory of creation”, Mr. Bernard ngomongin soal teori penciptaan yang juga ada di agamanya (Kristen), “Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, dan mungkin sciencetifically itulah mengapa kaum Adam mempunyai kedua kromosom itu sedangkan kaum Hawa hanya mendapatkan bagian feminin”

“Not so many scientist say this, tapi menurut saya ini masuk akal,” lanjutnya.

Sehabis itu, pikiran gue langsung melayang tentang salah satu cerita di jaman Ali Ra.

Sempat ada kegemparan di Madinah saat itu, dikarenakan ada seorang budak yang sehabis melahirkan tetapi setelah itu justru menghamili orang lain.

Berkelamin ganda, Ali Ra. pun langsung memutuskan untuk memanggil orang itu, lalu berdasarkan Qur’an dan Hadis bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, diputuskan bahwa budak itu adalah laki-laki, karena tulang rusuknya kurang satu dibandingkan tulang rusuk wanita (wanita 23, laki-laki 22, kalau salah koreksi ya)

Apa yang tak maksud dengan dua kisah diatas?

Pertama (untuk Gay/Humu/Maho) ‘dukung kesembuhannya, bukan dukung keberadaannya’, karena dengan kromosom XY, orang yang anak yatim dan hanya dirawat ibunya berpotensi menjadi ‘melambai’, atau orang yang kedua orangtuanya meninggal dan tinggal dengan kakak-kakak perempuannya juga berpontesi menjadi ‘melambai’.

Nah, selama belum sampai tahap (maap) berhubungan badan, apa salahnya dengan ‘mendukung kesembuhannya, bukan mendukung keberadaannya’?

Yang kedua, mungkin ini yang paling penting.

Agama jangan dipisahkan dengan ilmu pengetahuan.

Entahlah, mungkin begitu? 🙂

image

(Sumber gambar: Sridianti.com
Beta.diylol.com)

Bernard Ngeliat Supernova

image

(Ilustrasi: tokopedia.com)

Pertama tau supernova dari bukunya Dee Lestari, jadi nama keren itu adalah nama untuk bintang yang meledak dan kemudian hilang (kalau gaksalah habis itu jadi blackhole ya? Atau proses blackhole beda lagi? Tau ah.)

Baca tuh buku asli super mumet banget, kalo filmnya masih mudeng dikit kalo nih buku bikin capek bacanya (atau mungkin gara-gara lagi banyak pikiran pas bacanya), jadinya beberapa puluh halaman langsung gakdibaca lagi sampai sekarang :V, buku ditinggal dirumah gakdibawa ke asrama wkwk.

Unbearable South African creature Bernard pernah ngeliat supernova, yang tentu aja keren banget.

“I’ve seen a lot of strange things in my life”, katanya yang tiba-tiba curcol saat itu. “Salah satunya, saya pernah melihat bintang yang kemudian cahayanya menjadi membesar dan tiba-tiba menghilang begitu saja”

Bernard saat itu lalu menelpon pusat antariksa setempat, dan ia diberitahu bahwa itu adalah kejadian yang langka untuk bisa dilihat orang.

Mungkin gara-gara ini kali yak nih orang terinspirasi jadi guru Sains. Padahal kenapa gak jadi astronot aja terus ketabrak asteroid atau keserap blackhole daripada ujung-ujungnya jadi guru di kelas gue.

Wkwk, ah tapi Bernard udah membaik sih sekarang, mungkin gara-gara pas project video Sains kemarin gue ada ngejek dia yang killer di salah satu bait lirik rap;

One double eight to the three Krakatoa explode
Byron made a poem ’bout it he was a lord
Like the reality oh my mouth full of salivas
Some teachers are lord we students are their slaves

(Nih link videonya: https://youtu.be/0gq2-7gyeEk , iya emang rhymenya maksa.)

Maksud lirik rap diatas, tahun 1883 Krakatau meledak, Lord Byron bangsawan di Inggris membuat puisi tentang itu. Dan lalu ‘sebagian guru itu Lord (tuan) dan murid adalah slaves (budak).

By the way, berdasarkan yang gue baca banyak bintang yang kelihatan di langit sebenarnya sudah tidak ada tapi cahanya baru sampai ke bumi. Jadi mungkin aja supernova yang dilihat oleh Bernard udah terjadi beraaaatus ratus tahun yang lalu…

image

(Ilustrasia: english-nihongo-indonesia.blogspot.com)

Cinta Monyet dan Huruf A

Jadi, uwe yang kecilnya hobinya baca buku dan main bola sampai dimarahin mamak gara-gara kulit jadi kayak kepiting rebus juga pernah merasakan cinta monyet, yah sebenarnya yang aneh justru kalau uwe tidak pernah merasakannya sih. Hahaha.

Sebutlah namanya Afifah Dzakiyah. Oke, itu emang nama aslinya wkwkwk. Uwe mencintai  dia… oke itu gak pas dengan bahasa uwe pas SD dulu wkwk, uwe menyukai dia kayaknya lebih pas (walaupun tentu aja menyukai dengan tanda kutip heuheu).

Tapi karena uwe anak yang culun dan gakberani mengungkapkan perasaan, jadilah perasaan itu terpendam dan tidak pernah saya sampaikan secara langsung di depan dia (tapi lewat SMS, eh?)

Salah satu kejadian yang uwe inget adalah saat uwe memberinya hadiah diam-diam saat dia ulang tahun, bukan apa-apa, hanya sekedar duit seribu, wkwkwkwkwk.

Lah terus gimana caranya ngasih duit seribu diam-diam? Nah, supaya doi gakngira itu duit orang yang ketinggalan, maka uwe taroh duit itu di mejanya dengan kertas berisi tulisan anak “Selamat Ulang tahun Dzakiyah”, dan perpaduan antara sering baca Detective Conan dan otak anak SD yang idiot akhirnya uwe punya ide brilian saat itu dengan mengganti cara menulis huruf a uwe.

Dzakiyah tentu aja awalnya langsung menanyakan apakah gue yang memberi uang itu. Tapi bahkan sebelum gue membela diri seperti skenario gue, justru Engga yang sering melihat tulisan gue udah membela gue dengan mengatakan cara gue menulis huruf a berbeda.

 

letter-146040_640.png

Cara menulis huruf a gue sebelumnya.

ekaikhsanuddin.blogspot.com2

Gue ubah jadi kayak gini

Tapi cinta monyet ini mempengaruhi uwe sampai sekarang. Cara menulis huruf a uwe sejak itu malah ganti 😀 untungnya Dzakiyah tidak pernah melihat buku catatan saya sebelum maupun sesudah kejadian itu hueheheh.

Oiya, Dzakiyah yang udah lama lost contact, gimana kabarmu? 🙂

Catatan Merbabu (1): Seratus Sewu Ae!

Merbabu uwe datang!

Ga sabar dah asli buat pendakian pertama ini, walaupun capek karena semalaman tahun baruan di Malioboro dan pulang pun terhalang oleh macet sehingga sampai di rumah Rohim (selama di Jogja nginepnya disana) jam satu malam.

Rohim pun rada marah karena saya yang kepengen banget buat tahun baruan di Malioboro sampai kita gakada waktu istirahat, mana belum packing pula jam satu malam itu sehingga jam dua malam kita baru tertidur.

DSC03399

1451999182099

Dari kiri: Rohim, saya, Ega, Wafa. Ega dan Wafa adalah teman Purwokerto kita yang sedang libur di Jogja, tidak ikut naik gunung.

Untungnya meskipun tidur telat, kami tetap bangun pagi heuheu.

Pagi pun diawali dengan sarapan sek di teras rumah Rohim (penggunaannya udah bener belum ya? Ah tau deh yang jelas sehabis dari Jogja kata sebentar keganti sama kata sek hahaha).

DSC03358DSC03360

Yak! Sarapan selesai! Kami pun bersiap-siap mandi, tapi karena aliran air di rumah Rohim sedang mati. Kami akhirnya mandi pagi di sumur sebelah rumah.

usmag-5693fcff0523bdd50c3193ff

Gak sempat foto, tapi kira-kira beginilah saya waktu itu sehabis mandi di sumur (credit: usmagazine.com)

Setelah mandi, kami pun langsung siap-siap berangkat ke terminal bus, dari terminal bus di Yogyakarta kami berangkat ke Semarang, lalu dari Semarang kami berangkat ke Salatiga.

p-20160101-073913-bf-5693fe67c9afbd4916f3d0f0p-20160101-093620-bf-5693fe8563afbde20cbc9bd0

Rohim tidur di bus  

Kami pun lalu akhirnya sampai di Salatiga, tapi kami tidak berhenti di terminal melainkan di Pondok Al-Irsyad dimana disana berkumpul teman-teman pendaki lain yang merupakan teman pondok Rohim dulu.

Ternyata bukan hanya saya saja yang bukan anak Pondok Al-Irsyad yang mengikuti pendakian, selain Rohim, dua orang temannya (Mikdad dan Ridwan) pun mengajak teman luar pondok. Jadi bisa dibilang pendakian itu berisi 3 orang anak Pondok Al-Irsyad dan 3 orang anak luar Pondok Al-Irsyad. Mikdad bersama temannya tidak kami temui disana, sepertinya ia sudah pergi duluan ke basecamp Merbabu. Akhirnya kami berempat (saya, Rohim, Ridwan, dan Ganu temannya Ridwan) pun berangkat dari Pondok Al-Irsyad dengan beberapa angkot menuju Pasar Cepogo.

25PasarCepogo

(Credit: Solopos)

Di pasar Cepogo, sebenarnya sudah ada bus untuk menuju pertigaan jalur Selo tempat memulai pendakian. Tetapi untuk menghemat biaya akhirnya kami memilih untuk mencari tumpangan mobil pick-up pengangkut sayur-sayuran yang menuju ke arah yang sama yang tetap saja akan membayar ongkos tapi lebih murah.

Daaan.. disinilah kejadian yang jadi judul tulisan ini terjadi.

Jadi melihat kami yang melewati bus begitu saja, ada seorang supir pick-up yang ngotot-ngotot agar kami numpang di mobil pick-up miliknya.

“Seratus sewu ae mas!” katanya.

Kami mencoba menawar, jika seratus ribu untuk empat orang, hitungannya 25 ribu satu orang. Sedangkan jika kami naik bus 30 ribu satu orang,  sayang amat jika hanya untung 5 ribu.

“75 ribu mas!”

“Ah gak bisa mas, seratus sewu!”

“85 ribu deh mas!”

“Gak bisa mas, seratus sewu!”

Supir pick-up ini ngotot dengan harganya, akhirnya Ridwan yang sudah berpengalaman mengajak kita untuk meninggalkan saja dia. Tetapi ternyata kengototan supir pick-up tidak berhenti sampai disitu.

“Ayolah mas, seratus sewu ae loh!”

“Mas, ini sudah paling murah mas seratus sewu ae, sama yang lain mas dapatnya lebih mahal”

“Masnya ini gak percayaan lo saya ini udah paling murah seratus sewu ae!”

Tapi kami tetap acuh tak acuh, hingga akhirnya setelah mencari-cari ada supir pick-up lain yang setelah kami tanya-tanya mau memberikan tumpangan dengan bayaran lima sewu satu orang. Supir pick-up yang tadi ngototan itu pun beranjak pergi. Saat pick up akhirnya berjalan menjauhi, Ganu kemudian berteriak,

“Seratus sewu ae mbahmu!”

DSC03403

“Seratus sewu ae mbahmu!” kata Ganu. Ia kemudian berfoto dengan kamera saya…

(Bersambung)

Catatan Sekolah (1): Curhat Guru dari Amerika

markus.jpg

Saya mempunyai seorang guru dari Amerika, sebut saja dia Mawar.

Oke, sepertinya tidak cocok. Sebut saja dengan nama aslinya Marcus, yah kita panggil sajalah Mr. Marcus. Ya, yang fotonya saya pajang diatas.

Saya memang bersekolah di negara Arab (tepatnya di PEA), tapi karena sekolah saya sekolah internasional gurunya pun tidak hanya berasal dari daerah lokal, tapi juga dari daerah luar seperti Mesir, Sudan, Afrika Selatan, dan bahkan Amerika.

Mr.Marcus sering bercerita tentang kehidupannya di Amerika (dengan sisi negatif), kadang bahkan menjelaskan pelajaran pun dengan membawa-bawa Amerika, entahlah, mungkin beliau frustasi atau bagaimana saya tidak tahu. Yang jelas setiap dia akan curhat kata-kata yang paling sering keluar darinya adalah “In America…” dan kemudian dia akan menghabiskan setengah jam pelajaran menjelaskan tentang Amerika.  Bagi saya sih tidak apa-apa, toh setengah jam waktu yang lumayan untuk dimanfaatkan dengan surfing internet di hp diam-diam dengan wifi dari sekolah, untuk tidur juga lumayan :p.

Tapi makin kelamaan, seiring saya juga makin sering membaca buku saya akhirnya mulai memperhatikan ketika Mr. Marcus curhat  tentang Amerika, ternyata menarik juga saya pikir.  Hari ini saya belajar tentang percentage dengan beliau, kemudian di satu momen beliau bertanya;  “Jika Simmy (nama teman saya) meminjamkan 5.000 dirham dengan janji bunga 1.25%, maka berapa uang yang akan dikembalikan?” sambil Mr. Marcus menuliskannya di papan tulis.

Saya memerhatikan sejenak dan kemudian diam melanjutkan lamunan saya kembali, tak tertarik. Lalu kemudian, beliau menyatakan bahwa jumlah yang harus dikembalikan nantinya berjumlah 11.250 dirham. What the heck? saya pikir. Bahkan dengan bunga 10% jumlah yang dikembalikan hanya berjumlah 5.500 dirham, bagaimana bunga 1.25% bisa mencapai angka sebanyak itu? Kemudian saya mulai memerhatikan kembali, kata dia 1.25% yang dimaksud bukanlah satu koma dua lima persen. Tetapi satu (whole which means 100%) dan dua puluh lima persen yang berarti 100% ditambah 25% yang sama saja dengan 125%! Dia lalu menjelaskan bahwa penulisan 1.25% yang bermaksud satu ditambah 25% itu dibenarkan.

Saya kemudian mengacungkan tangan bertanya, “But… so the way of writing is just to trick everybody?” “Yeah..” jawabnya sambil mengangguk kemudian mengeluarkan kalimat saktinya “In America……”  dan mulai bercerita tentang keadaan di negaranya, membanding-bandingkan keadaan Amerika dengan PEA yang dia gambarkan seperti neraka dan surga, lalu kemudian menjelaskan bahwa di Amerika ilegal untuk berbohong, ilegal untuk melakukan penipuan, tetapi di Amerika tidak ilegal untuk menggobloki orang goblok. Jadi ya seperti kasus tadi, misalnya bank menjanjikan pinjaman dengan bunga 1.25% dengan maksud 1 (whole which means 100%) ditambah 25%, tapi para peminjam yang goblok mengartikannya sebagai benar-benar 1.25%, dan akhirnya mengetahui kebenaran sebenarnya mereka tidak bisa melakukan laporan karena penulisan 1.25% itu sendiri tidak ada salahnya, salah sendiri goblok?

Mungkin agak terlalu ribet sistem ini, saya juga jadi pusing, begini deh contohnya; Si A ingin mempunyai banyak uang, si A lalu mencetak seribu tiket undian yang ia perjualbelikan ke seribu orang dengan harga 1 dollar dengan janji bahwa 1 orang yang beruntung akan mendapatkan 1.000 dollar.

Pada akhirnya muncullah 1 orang pemenang, tapi kemudian si A menjelaskan bahwa dia telah menipunya dan mengembalikan 1 dollar ganti tiket undian tadi kepada si pemenang sebagai ganti rugi. Lalu akhirnya Si A itu mendapatkan 999 dollar dari 999 tiket undian sisanya yang berhasil ia jual. Ada yang salah? Toh si pemenang mendapatkan uangnya kembali, dan 999 orang sisanya tentu tidak perlu pusing dengan undian yang tidak mereka menangkan.

Tapi jika sistem seperti ini terjadi hingga situasi kompleks, apa yang akan terjadi?

“The rich become richer, the poor become poorer” itu kata Mr. Marcus menjelaskan keadaan yang akan terjadi dengan sistem tadi,

yang kaya makin kaya,

yang miskin makin miskin.

Tapi bagi saya masih ada yang kurang;

yang goblok makin goblok!

Al Ain, 28 September 2015, begadang kayak gini jadi pengen mie instan….