Ritual Memanggil Tuyul 

Kalo lu pikir orang-orang Persatuan Pelajar Indonesia adalah kumpulan nerd dengan obrolannya yang serius, anda salah besar! Huahahahha.

Let me tell you why.

Jadi di PPPI Al-Ain, Uni Emirat Arab, ada sebuah ritual memanggil tuyul.

Tapi tentu aja, ini bukan ritual sembarangan.

Salah satu junior (yang paling idiot, tentunya), akan disuruh untuk wudhu, membuka baju, celana, dan celana dalam.

Lalu dia akan dibawa para senior ke salah satu kamar yang lampunyanya akan dimatikan.  

Kemudian, ia akan disuruh membuka sarungnya dan sebuah bb murahan akan merekam kejadian itu. 

Para senior akan mengatakan bahwa ttuyuilnya ngumpet di dalam situ, while in fact itu sebenarnya ngerekam titit HAHAHAHHAH.

Karena titit junior saat itu sangat berbulu dan jorok, senior gue pada bilang,

“BUKAN TUYUL INI, INI MAH JENGLOT!”

And you know what’s even funnier?

Dia percaya!

Huahahahahahhahah.

Malah nanya, “Hah mana kok saya gak liat!?”

Asli ngakak ngeliatnya.

Bodoh dipelihara

Realisme Sosial Lenny Abrahamson

Frank, salah satu karya Lenny Abrahamson 

Bung Karno meminta, bahkan menangisi, agar tidak dimasukkan hak-hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar Indonesia.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Kita rancangkan Undang-Undang Dasar dengan kedaulatan rakyat, bukan individu!

Tan Malaka mengatakan, bahwa untuk kemerdekaan umum, orang-orang harus merelakan kemerdekaan dirinya sendiri. 

Gue langsung teringat novel 1984 karya George Orwell, tentang orang-orang yang hidupnya diawasi pemerintah, mulai dari tidur, makan, berak… 

Gak heran. Karena 1984 sendiri ramalan George Orwell tentang bagaimana jika ideologi komunis menjadi ideologi negara-negara di dunia. 

Dan Soekarno, Tan Malaka, adalah dua orang yang kita hormati karena turut berjasa dalam mendirikan apa yang kita sebut Indonesia, juga dua orang yang ideologinya komunis, atau cenderung ke komunis. 

Di jaman Soekarno, bermacam-macam lembaga yang berakar ke PKI yang masuk ke tatanan masyarakat, salah satunya Lekra (Lembaga Kedaulatan Rakyat) yang mengusung realisme sosial sebagai aliran seni para pelukis, penulis, penyanyi dan seniman dari berbagai bidangnya.

Tapi jika Lenny Abrahamson adalah orang Indonesia, dan membuat film di jaman kita masih mempunyai Lekra, mungkin Lekra justru akan membabat habis-habisan sutradara film asal Irlandia ini–sebagaimana mereka membabat para seniman yang berbeda aliran dengan mereka di jamannya.

Realisme sosial, pada pengertiannya adalah aliran seni tentang realita yang ada diantara masyarakat. Lekra mengartikannya dengan sempit, dengan gambaran bahwa masalah di dunia ini seolah-olah hanya soal kemiskinan atau semua masalah di dunia ini berakar dari kemiskinan, Lenny Abrahamson menggambarkannya dengan cara yang berbeda.

Tonton film-filmnya, Lenny Abrahamson justru memperlihatkan bahwa seorang individu selalu mempunyai kesunyiannya sendiri, terlepas dari kaya atau miskin orang tersebut. 

Di Garage, dia memperlihatkan seorang penjaga pom bensin yang mempunyai kesulitan dalam memahami norma-norma orang sekitarnya. Di Frank, dia memperlihatkan seorang musisi yang  sangat tidak percaya diri sehingga harus selalu memakai kepala buatan sebagai topengnya. Juga film-film lainnya seperti Room, dan What Richard Did. 

Lenny Abrahamson dan pemahamannya soal realisme sosial. Lekra dan pehamannya soal realisme sosial. Bung Karno. Tan Malaka. 

Semua itu seolah memperlihatkan ke gue bahwa walaupun masyarakat tanpa kelas terwujud (sebagaimana impian para komunis), masih akan ada banyak masalah di dunia ini; seorang introvert yang depresi karena terus menerus dibully, atau seorang yang bunuh diri karena putus asa akan cintanya.