Dream’s Note: Buku Merah Terlarang

21-2-2017 (lupa tahun pas nulis di note) 

Di perpustakaan sekolah gue, ada buku-buku terlarang berwarna merah, dimana buku-buku itu hanya boleh dibaca para guru dengan titel Syekh di sekolah gue. 

Teman gue, Saad diem-diem minjem buku itu dan memasukkan buku itu ke tas gue karena bingung bagaimana mengembalikannya.

Gue kemudian ketahuan sama penjaga perpustakaan membawa buku merah itu, dan kemudian diinterogasi habis-habisan di perpustakaan.

***

Analisis:

Uni Emirat Arab sebenarnya bisa dibilang Arab ‘modern’, kalau ke pantai Dubai aja bakal ngeliat tuh cewek-cewek pakai bikini.

Tapi freedom of speech disini masih kurang, khotib Jum’at satu negara aja khotbah dengan teks yang sama yang kalau diubah satu huruf aja bisa dipenjara.

Selain itu, gue sering dinasehatin teman-teman yang menganggap diri mereka ‘religius’ dan ‘agamis’ bahwa kita sebagai orang awam ngikut apa kata Syekh kita aja, biarin mereka yang mikir.

Mungkin dua hal itu yang membuat gue bermimpi soal buku merah terlarang ini. 

Dream’s Note: Raditya Dika Khotbah Jum’at

(Sebenarnya udah pernah nulis ini beberapa kali di blog ini, tapi akhir-akhir ini dapat mimpi yang lumayan unik jadi gue mulai nulis mimpi lagi, dan bedanya sekarang gue juga nulis analis mimpi gue secara abal-abal)

20-2-2017 (lupa tahun pas nulis ini di note) 


Gue sedang berada di sekolah, ngumpul sama teman-teman alumni di SMP gue.

Gue ngobrol sama seorang teman yang muncul di beberapa mimpi gue sebelumnya,

“Eh, gue mimpiin lu dua atau tiga kali loh beberapa hari ini”

(Dan gue gak nyadar kalo ternyata itu juga mimpi, haha)

Kemudian waktu sholat Jum’at tiba, gue kemudian sholat Jum’at di mesjid SMP gue.

Saat masuk, gue kaget karena yang jadi Raditya Dika, memakai peci hitam, sedang menyampaikan khotbah Jum’at.

Kemudian ternyata Raditya Dika dalam mimpi gue adalah kader PKS, sekaligus pendukung Anies-Sandi di pilgub DKI.

***

Analisis:

Adegan khotbah Jum’at di mesjid SMP gue adalah untuk menyimpan ingatan tentang gue yang saat di Indonesia mengisi khotbah Jum’at di sekolah gue dua kali.

Dan kenapa Raditya Dika? 

Mungkin karena gue yang akhir-akhir ini sedang mikir soal Raditya Dika yang memilih netral dan gak ikut-ikutan kisruh politik DKI Jakarta.

Sementara para artis yang dulu diam aja ngeramein konser Gue Dua yang ngedukung Ahok, mulai dari Iwa K, Krisdayanti, walaupun tentu aja pasti ada artis-artis yang dari awal sudah concern soal politik seperti Tompi. 

Dan Pandji yang dari dulu concern soal politik, banyak bersikap dalam sosial politik seperti kasus Munir, dan mendukung Faisal Basri sebagai calon independen di Pilgub DKI sebelumnya, justru dihina-hina dan dituduh-tuduh haus jabatan.

(Bukan Review) Buku: Bumerang 

Judul Buku: Bumerang

Penulis: Arini Rachmatika

Penerbit: Nekad Publishing 

Gue antara berharap banyak dan bersiap kecewa untuk buku yang ditulis oleh temannya Gabriel ini. Walaupun tulisan-tulisannya sudah sering gue baca di blognya (tikuskeles.blogspot.co.id), tapi gue juga bersiap untuk kemungkinan kesalahan disana-sini karena setau gue ini novel pertamanya.

Tapi ternyata setelah gue baca, gakada tuh pikiran “ah wajarlah masih pemula” dsb. I really enjoyed it. 

Gue sudah banyak membaca buku-buku yang ditulis teman gue sendiri, beberapa ada yang gue beli sekedar untuk solidaritas, beberapa ada yang gue beli karena emang gue yakin bukunya bagus. Udah dua kali gue melakukan hal yang kedua, alhamdulillah masih beruntung. 

Oke, kembali ke buku Bumerang ini.

Gue membaca buku ini setelah membaca Tentang Kamu-nya Tere Liye, yang ternyata dua-duanya sama-sama memakai alur cerita flashback.

Tapi berbeda dengan bukunya Tere Liye memiliki tokoh yang luar biasa dengan cerita hidup yang luar biasa, di novel Bumerang kita akan mendapatkan tokoh biasa dengan cerita hidup  yang biasa–atau bisa dibilang sial, bahkan.

Kisahnya dimulai dengan kehidupan Ra yang sudah dewasa, dengan latar yang suram–kehidupan yang seolah anti-sosial, kehidupan yang berjalan dengan makan-tidur-kerja-makan-tidur-kerja..

Didukung dengan lagu Guts Over Fearnya Eminem yang gue dengar sambil baca buku ini.

Lalu flashback yang dimulai dengan cara yang unik dan agak sedikit surealis–Ra tanpa sadar mengucap ‘kampung halaman’ saat memesan tiket, dan itulah yang tertera di tiketnya.

Flashback kemudian dimulai.
Ra Kecil yang menghabiskan kenakalan masa kecil bersama Am.

Ra Remaja yang menikmati masa muda bersama Dam dan Kal.

Ra Dewasa dengan cinta, juga cerita kenapa ia bisa menjadi sesuram di awal cerita. 

Sebenarnya gue sempat mikir apa yang bikin gue seneng sama buku ini, padahal ceritanya biasa-biasa aja. 

Penokohan yang kuat, keknya setelah gue pikir-pikir. Setiap tokoh dalam ini bagi gue memiliki karakter yang kuat dan bukan menuh-menuhin adegan doang. Dari Kal, sampai ke guru-gurunya Ra saat remaja menurut gue yang memiliki karakter paling kuat.

Tapi selain penokohan yang kuat, kayaknya emang cerita yang biasa itu kadang justru jadi daya tarik tersendiri, karena relatable sama kehidupan kita.

Well…

Oiya, buku ini membuat gue kembali memberi harapan ke gue bahwa masih banyak penulis-penulis cewek yang bagus, yang gak menulis dengan gaya super-sentimentil yang menggelikan.

Raditya Dika dan Ernest Prakasa

Raditya Dika dan Ernest Prakasa

Catatan:

1. Gue penggemar garis keras Raditya Dika yang telah baca dan nonton semua buku dan filmnya.

2. Gue dan Raditya Dika sama-sama punya sutradara favorit yang sama, yaitu Woody Allen. 

Sebenarnya, ada tiga yang mungkin bisa masuk dalam perbandingan ini, satunya lagi adalah Kemal Palevi dengan film yang ia tulis, perankan, dan sutradarai; Youtubers dan Abdullah v Takeshi. Tapi sayang cuman dua ini yang bisa terbilang cukup sukses dan memang terlihat sekali aroma persaingannya.

Oke, gue mulai deh perbandingannya.

1. Akting

Akting Ernest Prakasa lebih bagus dari Raditya Dika, bahkan itu diakuin sendiri oleh Radit dalam sebuah dialog di film Hangout dimana Surya Saputra menyindir akting Radit yang gitu-gitu aja.

Akting Radit yang lempeng mungkin memang ia jalankan untuk membuat citra di masyarakat, tapi gue rasa untuk citra itu pun Radit sebenarnya bisa memainkannya dengan lebih baik.

Ernest Prakasa bahkan hanya setelah film Ngenest sudah bermain peran di dua film lainnya, yaitu Sabtu Bersama Bapak dan Rudy Habibie. Dan sekarang setelah Cek Toko Sebelah ia kabarnya akan bermain di sekuel Filosofi Kopi-nya Angga Dwimas Sasongko.

2. Keseimbangan Cerita dan Komedi

“Ah, namanya juga komedi, wajar ceritanya gak sesuai logika”

No, no. Jangankan komedi, bahkan fantasi pun harus sesuai logika. Gak bisa main seenak udelnya sendiri. 

Tapi kebanyakan logika juga gak baik sampai unsur komedinya ilang.

Ernest Prakasa sama Raditya Dika sama-sama mempunyai keseimbangan ini.

Dari Cinta Brontosaurus, Marmut Merah Jambu, apalagi Single… tapi justru di dua film terakhirnya Radit kehilangan itu (padahal di film Single gue udah ngerasa “wah gak salah nih Radit jadi sutradara pilem”).

Di Koala Kumal, banyak adegan yang menurut gue garing walaupun ceritanya menarik. Kebalikannya di Hangout gue ngakak gak berhenti-henti tapi gak abis pikir ending cerita yang gak sesuai logika itu.

Kalo kata mantan eh temen gue sih, “Mungkin ngejar deadline”. Hangout sama Koala Kumal emang deketan sih…

Ernest, justru di Ngenest dan Cek Toko Sebelah, berhasil menghasilkan komedi yang seimbang dengan drama (yang gak lebay), walaupun bertolak belakang dengan salah satu pernyataannya, “Gue bukan mau buat drama-komedi, gue mau bikin komedi”.

3. Fanbase

Ini mungkin yang gak dipunyai

Dalam salah satu wawancara ketika Ngenest disandingkan dengan Single bahkan Ernest berkata, “Wah, susah sih. Radit mah bagi kita udah kayak dewa”.

Radit emang karirnya gak seperti Ernest yang abis bikin 3 buku (yang itupun kebanyakan ngembangin bit stand upnya) trus jadi sutradara. Radit sempat punya karir panjang sebagai penulis mulai dari Kambing Jantan sampai Koala Kumal. 

Mungkin itu kenapa Radit bisa punya fanbase yang fanatik banget yang mungkin bisa dia pake kalo dia pengen nyalon jadi pejabat.

Salah satunya gue, yang setelah Koala Kumal yakin bakal dikecewain lagi, tapi tetap nonton Hangout di malam minggu, nontonnya dengan cowok yang sama-sama jomblo pula. Mending kalo sama cewek yang sama-sama jomblo, siapatau jadian… 

Well, gue gakada maksud apa-apa dari pos ini; kecuali agar para sineas Indonesia semakin berkembang! 2016 udah jadi tahun yang cukup baik buat kita, mari tingkatkan! 😀 

(Bukan Review) Cek Toko Sebelah: Lagi, Potretan Ernest Soal Tionghoa di Indonesia

“Kamu sudah memilih dia, kali ini biarkan dia yang memilih”

FYI: Tulisan ini udah diedit karena sebelumnya ditulis dalam keadaan mabok minum teh gelas dan untuk keperluan pos berikutnya.

Sinopsis

Seorang ayah pemilik toko ingin pensiun dari profesinya dan mewariskan toko kepada salah satu dari anaknya, Yohan atau Erwin.

Tapi anehnya, dia justru memberikannya kepada Erwin yang merupakan anak bungsu.

Bukan Review

Sebenarnya gue udah nonton Passengers sebelum ini tapi belum gue review, tapi yowes lah ini dulu sebagai langkah mendukung film tanah air wkwkwk. 

Btw, ini film Indonesia ke-4 yang gue tonton di bioskop bulan ini, alhamdulillah film Indonesia bulan ini bagus-bagus.. (sama kek pas lebaran kemaren ada Sabtu Bersama Bapak, Rudy Habibie, sama Koala Kumal yang gue tonton semua) 

Pengalaman nonton film Cek Toko Sebelah ini memang agak beda sih.

Gue nonton film ini bukan di Big Mall tempat gue biasa nonton tapi di SCP karena waktunya mepet dengan selametan sunatan adek gue abis Maghrib (yey adek gue udah sunat!)

Kebanyakan nonton di Big Mall, pengalaman nonton di SCP ini jadi agak beda wkwkwk.

Layarnya lebih kecil, penonton depan sama belakang lebih mepet jadinya pas adegan lucunya itu orang di belakang gue kek ketawa pas di telinga gue.

Terus.. ruangannya gak begitu kedap suara, begitu ujan, suara ujannya tuh langsung jadi distraction yang ganggu kenikmatan menonton film.

Wkwk gue banyak protes gini jadi inget pas adek gue nyuruh gue mesen pop corn, 

Mbak-mbak 21: “Pesen apa mas?”

Gue: “Pop corn caramel satu, Mbak. Yang Medium”

Mbak-mbak 21: “Gak yang large aja, Mas?”

Gue: “Yang medium”

Mbak-mbak 21 kemudian ngambilin pop corn pesanan gue.

Mbak-mbak 21: “Ini mas, ada pesanan lagi?”

Gue: “Gak Mbak, cukup”

Mbak-mbak 21: “Ice Blend? Nugget?”

Gue: “Cukup,Mbak”

Mbak-mbak 21: *ngeliatin dengan tampang duh-nih-orang-rembes-ngapain-di-bioskop*

FYI, penampilan gue tadi emang awut-awutan karena selain emang abis jalan dan rambut gue lagi lumayan gondrong, emang gue gembel aja…

Oke, kembali soal film ini.

Pertama… musik!

Entah kenapa gue suka banget soundtrack-soundtrack film ini yang diisi GAC sama The Overtunes, apalagi yang Berlari Tanpa Kaki yang di filmnya diputer pas banget dengan adegan Koh Afuk kehilangan tokonya.

Musik emang bagian penting dari film bagi gue, apalagi setelah nonton film-filmnya Woody Allen yang musiknya kuat banget salah satunya intro Midnight in Paris.

Kedua..

Disini, sama seperti Ngenest, Ernest lagi-lagi membawa-bawa isu etnisnya (Tionghoa) dalam film ini. Kita tau kan orang Tionghoa di Indonesia yang kesan bisnisnya kuat banget mulai dari toko obat sampai konter pulsa.

Disini ia berkisah tentang seorang Tionghoa pemilik toko yang bersaing dengan pemilik toko di sebelah.

Di tengah-tengah film, dikisahkan persaingan berawal dari Koh Afuk (nama ayah Ernest di film ini) yang pindah ke sebelah saingannya itu karena tragedi ’98.

Ernest memang bukan seorang ‘penulis cerita’, ia adalah ‘pemotret cerita’, memotret cerita dan menyajikannya dengan sudut pandang terbaik yang dimilikinya; yaitu komedi. 

Btw, ini belum semua yang gue pengen tulis soal film ini, ada beberapa hal lagi yang gue alihin ke pos berikutnya.

So, cekidot (halah kayak ada yang baca aja). 

Rating: …, / …..

(Bukan Review) Hangout: Komedi Misteri yang Agak Tidak Bisa Ditebak 

Bukan kita yang nyari film, film yang nyari kita

Sinopsis:

Raditya Dika bersama 6 artis lainnya diundang ke sebuah pulau dan ternyata tidak disambut siapapun, satu persatu dari mereka mati. Pertanyaannya; siapa pembunuhnya?

Review:

Raditya Dika memang pernah mengaku sebagai salah satu penggemar Agatha Christie, tapi itu tidak membuat film ini semesterius novel-novelnya, malahan film ini lebih menonjol di komedinya walaupun misterinya gak kalah karena gue sampe akhir gak bisa menebak siapa pembunuhnya.

Hal yang lucu adalah, menonton film ini kita seperti melihat kenyataan sebenarnya (karena mereka semua memerankan dirinya sendiri), apalagi adegan ketika Raditya Dika berkumpul bersama keenam artis itu dan mengatakan ingin membuat film tentang mereka yang Hangout bersama-sama ke suatu pulau.

Yang paling bikin gue kaget disini Bayu Skak aktingnya memuaskan banget, gue sempat kecewa dengan Chandra Liow di Single yang menurut gue agak dibuat-buat aktingnya (walaupun sebenarnya gue penggemar youtube Chandra Liow).

“Bukan kita yang nyari film, film yang nyari kita!” Itu salah satu dialog di film ini. 

Itu dialog yang paling gue inget di film ini, karena sebenarnya itu terjadi di kehidupan gue juga.

Raditya Dika adalah orang yang membuat gue mengetahui dan menyukai Woody Allen, walaupun film favorit kita dari film-filmnya sepertinya beda (doi suka Annie Hall, gule kagak)

Ada tiga kesamaan antara Raditya Dika dan Woody Allen:

1. Film-filmnya kebanyakan romance comedy

2.Sama-sama berperan di film mereka dan mempunyai akting yang tidak begitu hebat tetapi akhirnya menjadi persona mereka bukan hanya di mata penonton, tapi juga di mata publik

3. Sama-sama mencoba beralih ke thriller, Woody Allen dengan Cassandra Clare, Raditya Dika dengan Hangout

Untuk yang ketiga ini, banyak kritikan pedas kepada Woody Allen yang dinilai gagal.

Tapi gue rasa tidak untuk Raditya Dika. 

NB: Pandangan gue soal film ini agak berubah, tapi gue males ngedit pos ini jadi bisa dilihat di pos gue yang lain; Ernest Prakasa dan Raditya Dika. 

Rating: … / …..

(Bukan Review) Bulan Terbelah di Amerika 2: LGBT, Aborsi, Revolusi Kebudayaan..

“Tuhanku ada di kepalaku”

“Kalau begitu ini saatnya kamu juga membawanya ke hatimu” 

Sinopsis

Hanum ingin kembali ke Cina, namun ia mendapatkan tawaran untuk mengungkap tentang Laksamana Cheng Ho yang pernah ke Amerika.

Konflik Azima Hussein dengan bundanya di film pertama dilanjutkan di film ini, begitupula romansa antara Stefan dan Jasmine yang ternyata hamil.

Bukan Review

Ada hal yang gue suka dari film-film Hanum Rais, belio mengangkat Eropa dan Amerika (berbeda dengan ISIS yang baru-baru ini bikin game android ngebom Menara Eifell, Ben Tower..) film-filmnya berhasil menghasilkan scene-scene menarik dengan latar tersebut.

Yang gak gue suka; filmnya kadang terlalu fokus kepada preaching, kayak 99 Cahaya di Langit Eropa yang malah kayak lagi jalan-jalan ke Eropa sama tour guide dibanding nonton film. 

Sebenarnya gue gakada minat untuk menonton film ini, apalagi setelah ngeliat trailernya yang ngomongin soal “Apakah Muslim penemu Amerika?” Gue ngerasa jangan-jangan ini film mau bawa teori konspirasi lagi kek di 99 Cahaya di Langit Eropa yang menyatakan teori konspirasi soal muslimnya Napoleon.

Tapi akhirnya gue nonton karena diajakin keluarga.

Don’t preach me!” Dialog itu diucapkan beberapa kali di film ini, dan gue rasa itu cukup menggambarkan film ini karena gue gak begitu ngerasa diceramahin.

Film ini membawa topik LGBT, Revolusi Kebudayaan Mao Zedong, Aborsi di Amerika tanpa banyak menggurui, bahkan meskipun membawa topik LGBT film ini seperti menyatakan sifat netral terhadap isu yang membawa banyak debat tersebut dan malah menjadikannya sebagai lelucon. 

Well, ini film religi bagus yang lagi-lagi dihadirkan di dunia film Indonesia, walaupun tentu saja masih tidak bisa mengalahkan Sang Pencerah dan Ayat-Ayat Cinta..

Rating: … / …..